Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan 👉 Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!

01. Backlink Indonesia 26. Iklan Maluku Utara
02. Backlink Termurah 27. Iklan Nusa Tenggara Barat
03. Cara Membeli Backlink 28. Iklan Nusa Tenggara Timur
04. Iklan Aceh 29. Iklan Online Indonesia
05. Iklan Bali 30. Iklan Papua
06. Iklan Bangka Belitung 31. Iklan Papua Barat
07. Iklan Banten 32. Iklan Riau
08. Iklan Bengkulu 33. Iklan Semesta
09. Iklan Dunia 34. Iklan Sulawesi Barat
10. Iklan Gorontalo 35. Iklan Sulawesi Selatan
11. Iklan Internet 36. Iklan Sulawesi Tengah
12. Iklan Jakarta 37. Iklan Sulawesi Tenggara
13. Iklan Jambi 38. Iklan Sulawesi Utara
14. Iklan Jawa Barat 39. Iklan Sumatra Barat
15. Iklan Jawa Tengah 40. Iklan Sumatra Selatan
16. Iklan Jawa Timur 41. Iklan Sumatra Utara
17. Iklan Kalimantan Barat 42. Iklan Terbaru
18. Iklan Kalimantan Selatan 43. Iklan Yogyakarta
19. Iklan Kalimantan Tengah 44. Jaringan Backlink
20. Iklan Kalimantan Timur 45. Jasa Backlink
21. Iklan Kalimantan Utara 46. Jasa Backlink Murah
22. Iklan Kepulauan Riau 47. Jasa Backlink Terbaik
23. Iklan Lampung 48. Jasa Backlink Termurah
24. Iklan Link 49. Media Backlink
25. Iklan Maluku 50. Raja Backlink

Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!

Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Mengenal Ranjau Laut Andalan Kapal Selam Nagapasa Class TNI AL

Kapal selam Changbogo Class (Nagapasa Class) yang berdinas di Korps Hiu Kencana TNI AL di awal 2017, telah berdampak pada sistem pertahanan dasar laut. Jika pada kapal selam sebelumnya, yaitu Jenis 209 (Cakra Class) yang hanya mampu meluncurkan torpedo SUT (surface and underwater torpedo) kaliber 533 mm, lain halnya dengan Changbogo Class yang mampu meluncurkan rudal anti kapal dan juga mampu memasang ranjau laut.

Kapal selam bermesin diesel listrik yang memiliki bobot hingga 1.442 ton (pada permukaan), Changbogo Class tidak mengusung sistem VLS (vertical launch system) untuk menembakkan rudal balistik. Pada kapal selam Changbogo Class, 3 fungsi yang terdiri dari peluncur torpedo, peluncur rudal anti kapal hingga peluncur ranjau, ditembakkan melalui peluncur yang sama. Kapal selam Changbogo Class mampu membawa hingga 28 unit ranjau laut.

Pada umumnya kapal selam yang menembakkan torpedo serta rudal anti kapal mungkin sangat mainstream. Berbeda jika kapal selam memiliki kemampuan menghantar ranjau laut (minelayer). Dalam kacah peperangan, ranjau laut didesain berbentuk bulat yang biasanya dipasanga oleh kapal perusak (destroyer) serta bekerja secara pasif. Tapi ranjau laut yang dimiliki oleh kapal selam memiliki wujud serta cara kerja yang agak beda. Perangkat ranjau laut yang dilepaskan dari kapal selam disebut juga SLMM (Submarine Launched mobile Mine).

Karena ditembakkan menggunakan tabung torpedo, SLMM punya berbentuk seperti torpedo. Dari aspek kaliber serta desainnya juga hampir mirip torpedo pada umunya. Mengenai cara kerja, ranjau SLMM ditembakkan dari kapal selam menggunakan tabung peluncur, SLMM bisa diarahkan pada area atau sasaran tertentu, seperti pada teluk, dermaga atau selat. Jika SLMM telah pada area sasaran, lalu SLMM akan berdiam diri di dasar laut.

Lalu SLMM yang memiliki sensor magnetic, sensor seismik, tenaga penggerak (propeller) serta hulu ledak, nantinya mendeteksi otomatis segala pergerakan sasaran yang lewat di atasnya. Ranjau ini bisa digunakan untuk menghancurkan kapal selam atau bahkan kapal permukaan. Jika target melintas tepat diatasnya, maka dia akan terkunci oleh sistem TDD (target detection device), lalu SLMM akan aktif dan bersiap menghancurkan target langsung tanpa dideteksi kehadirannya oleh lawan. Sudah sangat jelas bahwa SLMM merupakan alutsista dasar laut yang sangat mengerikan.

SLMM ada yang berkaliber 533 mm, contohnya BAE Stonefish, Sea Urchin, MR-80 serta TSM 3500. Kebanyakan ranjau laut berdesain torpedo ini dapat berdiam diri pada kedalaman maksimal 183 � 200 meter. SLMM juga bisa ditanam pada perairan dangkal, contohnya Stonefish bisa dipasang pada kedalaman 5 meter. BAE Stonefish buatan Inggris dan hingga kini selalu digunakan oleh AL Inggris dan AL Australia. Pada militer Australia, Stonefish dibawa oleh kapal selam Collins Class. Sedangkan armada kapal selam AL Amerika lebih sering menggunakan SLMM MK67 berkaliber 485 mm.

hobbymiliter
indomiliter

Bersponsor : Agen Iklan Online

Sekilas tentang rudal R-77, rudal andalan Sukhoi

Rudal yang disebut NATO dengan nama AA-12 Adder ini merupakan rudal udara ke udara (air to air missile/AAM) jarak menengah dan jauh dengan sistem pemandu active radar homing. Vymvel Design Bureau membuat 10 varian rudal R-77. [lockonfiles.com]

R-77 termasuk rudal beyond visual range (BVR) karena target berada di luar jangkauan pandangan mata pilot. Peranan radar penjejak sasaran pada pesawat sangat penting dalam penembakan. [su-27flanker.com]

Penembakan rudal ini memakai pola fire and forget (tembak dan lupakan) karena di moncong R-77 dilengkapi dengan radar pemancar dan sensor elektronik untuk melacak target yang akan dihancurkan. [lockonfiles.com]

Baca juga : Sekilas tentang pesawat 'Super Flanker' Sukhoi SU-35

Su-30MK TNI AU dengan rudal R-77 dibawah air intake. Foto: ARC.web.id (Sioux)

Rudal R-77 dapat meluncur dengan kecepatan 4,5 Mach dan menjangkau sasaran sejauh 90 km (R77) dan 175 km (R-77 M1). R-77 dapat ditembakan saat pesawat terbang pada ketinggian antara 5 meter sampai hingga 25 km. Untuk tenaga, rudal ini menggunakan roket berbahan bakar padat (R-77) atau sistem penghisap udara ramjet (R-77-PD). [Vitaliy V. Kuzmin]

Rudal ini mulai dikembangkan pada 1982 dan pertama kali diperlihatkan pada Moscow Airshow (MAKS) 1992. Rusia membuat R-77 sebagai tandingan rudal AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) yang merupakan andalan utama Amerika Serikat dan NATO. [ausairpower.net]

Indonesia, Vietnam, dan Malaysia, merupakan negara-negara di Asia Tenggara pengguna rudal yang mampu bermanuver hingga 12 G, sementara Singapura, Australia, dan Malaysia, memiliki tandingannya, yaitu rudal AIM-120 AMRAAM. Meskipun Indonesia memiliki pesawat tempur F16 A/B Block 15 dan F-16 Block 25+, Amerika Serikat belum mau menjual AIM 120 ke Indonesia. [defence.pk]

Spesifikasi R-77


  • Manufaktur : Vympel (Tactical Missile Corp)
  • Panjang : 3,6 meter
  • Diameter : 20 centimeter
  • Wingspan : 35 centimeter
  • Bobot : 175 kg (R-77) 226 (R-77M1)
  • Berat hulu ledak : 22 kg
  • Mekanisme penghancuran : laser proximity fuze
  • Mesin : Solid fuel rocket motor (R-77)/ Air breathing ramjet (R-77M1)
  • Kecepatan : 4,5 Mach
  • Ketinggian luncur : 5 � 25.000 meter
  • Pemandu : Active radar homing
  • Jangkauan : R-77 (90 km), R-77M1 (175 km)

Sumber : Tempo

Bersponsor : Agen Iklan Online

Sekilas tentang pesawat 'Super Flanker' Sukhoi SU-35

SU35 @ MAKS 2015 [Marina]

Belakangan ini cukup ramai diberitakan tentang pesawat tempur Sukhoi SU-35 yang akan dibeli oleh Indonesia. Yah... Kabar gembira itu memang harus dibagi karena penantian yang ditunggu dengan harapan yang sesuai dengan kenyataan sungguh menjadi sebuah hal yang �menggembirakan�. Di minggu pertama September ceria 2015 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah mengumumkan bahwa pilihan pada penggantian skuadron tempur F5E akhirnya jatuh pada jet tempur Sukhoi SU-35 yang memang sangat dinantikan.

Pilihan terhadap pesawat Sukhoi SU-35 ini dianggap sebagai pilihan yang tepat, karena dengan berbagai keunggulannya, Sukhoi SU-35 tentunya bisa lebih meningkatkan kewibawaan udara Indonesia dan memberi efek gentar, serta untuk lebih memperkuat pertahanan wilayah kedaulatan NKRI dan untuk menghadapi berbagai macam tantangan dan ancaman yang mungkin akan dihadapi di waktu yang akan datang.

Sukhoi SU-35 adalah pesawat tempur multiperan, kelas berat, berjelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal asal Rusia. Pesawat ini dikembangkan dari Su-27. Sebagai pesawat tempur generasi 4++ yang dijuluki sebagai �Super Flanker�, Shukoi SU-35 memliki jangkauan radar 2 lebih jauh ketimbang pesawat-pesawat generasi 4 atau 4+ yang memungkinkan SU-35S melakukan aksi First Look-First Shoot-First Kill sebelum pilot lawan melihat super flanker, pilot SU-35S bisa lebih dulu menjatuhkan pesawat lawan tersebut, bahkan secara teori jangkauan radar milik Sukhoi SU-35 ini lebih jauh dibanding pesawat F22 Raptor buatan Amerika.

Sukhoi SU-35 juga tak mudah untuk di endus radar lawan (semi stealth), meski SU-35 bukan pesawat siluman atau stealth seutuhnya layaknya generasi ke 5 seperti F22 Raptor atau F35 Lightning II. Di sektor mesin milik SU-35S juga jauh lebih bertenaga, mesin ganda 117S sangat superior dan irit setrum ketimbang Jet tempur lain, F16 misalnya.

Pesawat ini mampu melakukan manuver yang tidak bisa dilakukan oleh pesawat tempur lainnya yakni, berhenti seketika di udara, mampu terbang cepat di ketinggian dan bisa membawa banyak rudal udara ke udara. Pesawat multiperan dengan kemampuan manuver tinggi ini juga mampu menembakkan rudal secara rearward-firing (menembak ke belakang) dan Mampu beroperasi dari landasan pendek berkat mesin yang dilengkapi TVC (thrust vectoring control).

Meski biaya operasional per jamnya terbilang paling tinggi, bahkan ada yang menyebut Sukhoi sebagai �ATM terbang�. Mengutip informasi dari defence.pk, biaya operasional per jam (cost of flying per hours) SU-27/SU-30 mencapai USD 7.000, sementara untuk Su-35 biaya operasi per jam bisa mencapai USD 14.000 (Sebagai perbandingan biaya operasional per jam F-16 hanya USD 3.600), namun toh semua itu bisa terbayarkan dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh Sukhoi SU-35, serta kebutuhan akan alutsista yang berkualitas mutlak adanya untuk memperkuat pertahanan NKRI.

Berikut ini sekilas mengenai spesifikasi SU-35 :

  • Awak : 1 orang
  • Berat Kosong : 19.000 kg
  • Berat Lepas Landas Maksimum : 34.500 kg
  • Kecepatan Maksimum : 2.500 km/jam
  • Jangkauan Terbang Tanpa Tangki Bahan Bakar Tambahan : 3.600 km
  • Persenjataan :
Jenis Senapan :
Senapan Gryazev-Shipunov GSH-30-1 30mm
Jenis Rudal :
Sling Eksternal 12 titik
Rudal udara ke udara (Air to Air) jarak dekat, menengah dan jauh (200 km)
Rudal udara ke permukaan (Air to Surface) jarak jauh dan rudal anti kapal
Bom cerdas hingga kaliber 1500 kg
Bom serbaguna hingga kaliber 1500 kg

  • Perangkat Elektronik Aviasi : Radar Irbis (Jarak pendeteksian sasaran - 400 km)
Varian Sukhoi SU-35

SU-35 : Pesawat tempur dengan satu tempat duduk.
SU-35UB : Pesawat tempur dan pesawat latih dengan dua tempat duduk.
SU-35BM : Pesawat tempur bertempat duduk tunggal dengan avionik yang diperbarui .
SU-35S : SU-35BM versi domestik Rusia
SU-35K : SU-35BM versi ekspor

Bersponsor : Agen Iklan Online

Sekilas tentang pasukan-pasukan elite TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri dari 3 matra, yakni Angkatan Darat, Laut dan Udara masing-masing memiliki pasukan khusus yang berfungsi untuk tugas-tugas khusus dalam operasi militer perang (OMP), termasuk untuk operasi militer selain perang (OMSP), dan berikut ini beberapa pasukan khusus yang dimiliki oleh TNI.

SATBRAVO-90 (Pasukan Khas TNI AU)

Satuan Bravo 90 (Satbravo-90) sebelumnya bernama Denbravo 90 adalah satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas yang berkedudukan langsung di bawah Dankorpaskhas. Satuan Bravo 90 Paskhas bertugas melaksanakan operasi intelijen, melumpuhkan alutsista/instalasi musuh dalam mendukung operasi udara dan penindakan teror bajak udara serta operasi lain sesuai kebijakan Panglima TNI.

Pasukan ini terbilang pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus bertempur di udara.

Satuan Bravo 90 memiliki motto : Catya Wihikan Awacyama Kapala artinya Setia, Terampil, Berhasil

KOPASSUS (TNI AD)

Komando Pasukan Khusus yang disingkat menjadi Kopassus adalah bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat, Indonesia. Kopassus memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror.

Dalam perjalanan sejarahnya, Kopassus berhasil mengukuhkan keberadaannya sebagai pasukan khusus yang mampu menangani tugas-tugas yang berat. Beberapa operasi yang dilakukan oleh Kopassus diantaranya adalah operasi penumpasan DI/TII, operasi militer PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, penumpasan G30S/PKI, Pepera di Irian Barat, Operasi Seroja di Timor Timur, operasi pembebasan sandera di Bandara Don Muang-Thailand (Woyla), Operasi GPK di Aceh, operasi pembebasan sandera di Mapenduma, operasi pembebasan sandera perompak Somalia, serta berbagai operasi militer lainnya. Dikarenakan misi dan tugas operasi yang bersifat rahasia, mayoritas dari kegiatan tugas daripada satuan Kopassus tidak akan pernah diketahui secara menyeluruh. Contoh operasi Kopassus yang pernah dilakukan dan tidak diketahui publik seperti: Penyusupan ke pengungsi Vietnam di pulau Galang untuk membantu pengumpulan informasi untuk di kordinasikan dengan pihak Amerika Serikat (CIA), penyusupan perbatasan Malaysia dan Australia dan operasi patroli jarak jauh (long range recce) di perbatasan Papua nugini.

Prajurit Kopassus dapat mudah dikenali dengan baret merah yang disandangnya, sehingga pasukan ini sering disebut sebagai pasukan baret merah.

Kopassus memiliki motto : Berani, Benar, Berhasil.

KOPASKA (TNI AL)

Komando Pasukan Katak atau lebih dikenal dengan sebutan Kopaska didirikan 31 Maret 1962 oleh Presiden Sukarno untuk mendukung kampanye militer di Irian Jaya.

Satu grup di Armada Barat di Jakarta, dan satu grup di Armada Timur di Surabaya. Tugas utama dari pasukan ini adalah peledakan/demolisi bawah air termasuk sabotase/penyerangan rahasia kekapal lawan dan sabotase pangkalan musuh, torpedo berjiwa (kamikaze), penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar serta antiteror di laut/maritime counter terrorism.

Bapak dari Kopaska adalah Kapten Pelaut Iskak dari sekolah pasukan katak angkatan laut di pangkalan angkatan laut Surabaya. Dalam masa damai, Kopaska terbagi dalam tim-tim berkekuatan tujuh orang yang bertugas sebagai personel keamanan untuk pejabat atau tamu penting negara. Lebih penting lagi, salah satu tugas mereka adalah menjadi pengawal pribadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Mereka juga secara terbatas membantu tugas-tugas SAR di laut. Di samping itu, Kopaska pernah bertugas memperkuat pasukan perdamaian PBB.

Kopaska memiliki motto : Tan Hana Wighna Tan Sirna (Tidak ada rintangan yang tak dapat diatasi)

YONTAIFIB (Marinir TNI AL)

Batalyon Intai Amfibi atau disingkat YonTaifib adalah satuan elit dalam Korps Marinir seperti halnya Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat. Dalam perang, mereka ini yang akan diterjunkan di garis depan untuk melakukan sabotase atau pembuka jalan bagi pasukan reguler. Dahulunya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para Amfibi).

Untuk menjadi anggota YonTaifib, calon diseleksi dari prajurit marinir yang memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif minimal dua tahun. Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan intai amfibi, adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sejauh 3 km. Program latihan berlangsung selama sembilan bulan berturut-turut. Jika tak lulus, mereka akan dikembalikan ke kesatuannya masing-masing.

Dari satuan ini kemudian akan direkrut lagi prajurit terbaik untuk masuk kedalam Detasemen Jala Mengkara, pasukan elitnya TNI Angkatan Laut.

YonTaifib memiliki motto : Maya Netra Yamadipati

DENJAKA (TNI AL)

Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut.

Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin aspek laut.

Denjaka memiliki motto : Satya Wira Dharma

Bersponsor : Agen Iklan Online

AK-47 vs M16

Jenis senapan serbu di dunia memang beragam, masing-masing negara maju umumnya punya platform pengembangan sendiri sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Tapi harus diakui hanya ada dua poros senjata yang punya nilai fanatisme besar dan membawa pengaruh demikian luas, yakni M16 dan AK (Avtomat Kalshnikova)-47. Keduanya bisa diibaratkan menjadi dua mahzab tersendiri dalam jagad senjata, M16 mewakili nama besar Amerika Serikat, dan AK-47 mewakili superioritas kubu Rusia.

Mengiringi babak demi babak peperangan di seluruh dunia, dan tentunya gengsi AS dan Uni Soviet dalam era Perang Dingin, kedua senjata tak pelak menjadi lambang dominasi kekuatan militer, bahkan membawa pengaruh dalam urusan politik. Sebagai contoh, AK-47 bahkan dijadikan ikon dalam bendera nasional Mozambik. Dilahirkan dari dua kutub yang berbeda, M16 dan AK-47 juga disajikan dengan kalibe peluru yang berbeda, tentunya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dua perancang senjata bertemu, Mikhail Kalashnikov, perancang AK-47 (memegang M16) dan Eugene Stoner, perancang M16 (memegang AK-47).
Perseteruan antara M16 dan AK-47 untuk memenangkan predikat terbaik di antara senapan serbu sudah berlangsung cukup lama. Karena tidak ada pemenang definif, maka saluran dokumenter TV di Amerika Discovery Channel, membuat satu program spesial: Battle of The Centuries, M16 vs AK-47. Tujuannya untuk mencari juara sejati dari masing-masing kubu. Versi yang dipakaiu M16 adalah versi Vietnam dan M16-A2 karena memiliki fitur full auto. Sementara AK-47 yang digunakan adalah versi awal buatan Izmash. Penilaian dibagi ke dalam tujuh aspek:

1. Segi ergonomis
Pemakai M16 rata-rata tidak memiliki keluhan mengenai postur M16. Sedangkan AK-47 dinilai terlalu berat dan kaku, popornya terlalu pendek sehingga kurang nyaman di bahu.

2. Akurasi
Kedua diwajibkan menembak semi auto, target alumunium pada jarak 600 yard. Tembakan dilakukan enam kali. Selurun tembakan M16-A2 mengenai target dengan persebaran 13-14 inchi. Sementara dari enam tembakan, AK-47 hanya mampu mengenai satu kali, itu pun dikiri bawah.

3. Tes keandalan
Kedua senjata dimasukkan ke lumpur, air dan pasir. M16 jelas kalah dan macet. Legenda AK terbukti, senapan ini bisa terus ditembakkan tanpa macet.

4. Tes recoil
Pada mode full auto, sesudah tembakan ke 12, tembakan AK-47 sudah mengarah ke atap, sementara M16-A1 baru keluar dari target sesudah 24 tembakan.

5. Tes power
Setiap senjata harus menembak melaluio blok kayu Cinder seberat 35 pon setebal 12 inchi. Tembakan M16-A2 hanya menembus 2/3 blok, sementara AK-47 berhasil menembus kayu, sekaligus memecahkannya menjadi tiga bagian.

6. Tes penetrasi
Papan tripleks berukuran 2�4 inchi disusun berdempetan setebal 9 inchi. Peluru kaliber 5,56 mm dari M16-A2 mampu menembus sedalam 3/5 bagian, sementara AK-47 menembus semua tripleks, sembari memecahkan tiga tripleks menjadi beberapa bagian.

7. Harga
M16 punya price tag lebih tinggi 1,5 kali dari AK-47. M16 baru rata-rata berharga US$750 � US$1.000, sementara AK-47 hanya US$500, bahkan lebih murah untuk kopiannya yang dibuat di Cina.

Dari paparan diatas, jelas AK-47 unggul dalam pertarungan melawan M16. Akan tetapi, bukan otomatis AK-47 buru-buru dibeli banyak angkatan bersenjata. Bagi penganut jarak tembak efektif lebih penting dari segalanya, bisa ikut pakem AS yang menggunakan M16. Terlebih M16 unggul dalam hal kenyamanan dan akurasi. Akan tetapi, bagi yang memilih sisi keandalan, daya tahan, dan daya bunuh, maka pilihannya adalah AK-47.

Bagi Indonesia, yang sejak lama masuk dalam pusaran pengaruh AS dan Uni Soviet, sudah barang tentu sangat akrab dengan identitas M16 dan AK-47. Kedua senjata pernah menjadi senjata standar TNI dalam beberapa dekade. Meski pamor senjata serbu di lingkungan TNI telah beralih ke generasi Pindad SS-1 dan SS-2, namun turunan varian dari M16 dan AK-47 hingga kini masih cukup banyak dipakai di lingkungan satuan elit TNI dan Polri.

Sumber : Indomiliter

Bersponsor : Agen Iklan Online

4 Pesawat tempur andalan TNI AU saat ini

Pesawat tempur TNI AU
Hari ini, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) merayakan hari jadinya yang ke-69 tahun. Pasukan udara dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa ini menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 TNI AU Tahun 2015 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Setelah melalui beberapa masa kelam, krisis moneter hingga embargo militer yang dilancarkan AS sempat melemahkan kekuatan udara yang dimiliki Indonesia. Setelah perekonomian mulai membaik, Indonesia lantas menjajaki sejumlah pembelian alutsista baru.

Penjajakan pertama dilakukan akhir April 2003 saat Presiden Megawati Soekarnoputri menandatangani MoU dengan Rusia untuk pembelian empat jet tempur Sukhoi jenis Su-27. Pembelian dilakukan dengan sistem barter, di mana Indonesia membayar dengan produk-produk pertanian dan unggulan.

Berikut 4 jet tempur yang jadi andalan TNI AU saat ini :

1. F-16 Fighting Falcon


TNI AU memiliki 12 unit jet tempur F-16 Fighting Falcon Block 15 A/B OCU. Jumlah ini bertambah dengan datangnya dua dari 12 pesawat F-16 varian C/D 52ID ke pangkuan ibu pertiwi. Secara kasat mata, fisik dan berat kotor maksimum hingga mesin kedua varian pesawat ini tidak jauh berbeda.

Perbedaan itu nampak ketika kedua pesawat ini beradu kecepatan, di mana F-16 C/D Blok 52 memiliki daya dorong yang lebih besar, mampu senjata lebih berat dan terbang lebih jauh. Namun dalam close combat atau pertempuran udara jarak pendek maka pesawat F-16 Block 15 A/B OCU memiliki kelincahan yang lebih baik dari F-16 Blok 52.

Untuk urusan pertempuran udara dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C jelas pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan pesawat F-16 C/D Block 50/52. Sedangkan serangan darat dan perairan, F-16 ID mampu menggotong persenjataan kanon 20 mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, JDAM (GPS Bomb), rudal AGM-65 Maverick, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar).

Pesawat ini juga mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved Data Modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

TNI AU mengklaim upgrade Pesawat F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52. Semua pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU juga menjalani modifikasi struktur rangka pesawat dengan program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) sehingga umur rangka pesawat menjadi lebih dari 10.000 jam.

Hal ini memungkinkan pesawat dipakai selama 10 tahun lagi sebelum menjalani Dervice Life Extension Program (SLEP) yang mampu menambah umur rangka pesawat sekitar 2000 jam atau 10 tahun masa pakai.

2. Sukhoi Su-27 SK/SKM


Selain F-16, TNI AU diperkuat 2 unit Su-27 SK dan 3 unit Su-27 SKM. Su-27 SK merupakan varian yang dibuat ketika Uni Soviet masih berdiri. Pesawat berkursi satu ini memiliki peningkatan mesin berupa AL-31F turbofans yang terpasang di kedua sisinya. Dengan demikian, jet ini mampu melesat dengan kecepatan maksimal 2.500 km per jam.

Sementara, Su-27 SKM merupakan varian teranyar yang merupakan perbaikan dari Su-27 SK, dengan beberapa peningkatan di dalam kokpit, serta self-defense electronic countermeasures (ECM) dan bisa melakukan pengisian ulang di udara.

Dibanding pendahulunya, Su-27 SKM tidak lagi hanya berkemampuan air to air, tetapi juga air to ground. Sejumlah panel kuno di dalam kokpit juga digantikan dengan avionik layar kaca berupa tiga MLD (Multifunction Liquid-crystal Displays) serta HUD (Head-Up Displays).

Sistem navigasi mengalami peningkatan dan diintegrasi dengan sistem satelit GLONASS dan NAVSTAR. Varian ini juga menggunakan Sistem Peringatan Radar untuk memandu rudal antiradiasi KH31P.

Peningkatan IRST (Infrared Search and Track Devise) dengan penjejak laser untuk melepaskan rudal laser-beam riding juga dilakukan. Su-27 SKM ini dapat membawa rudal air to air RVV-AE active radar homing, rudal air to ground Kh-29T(TE), Kh-29L, Kh-31P, Kh-31A, serta bom berpemandu KAB-500Kr dan KAB-1500Kr.

3. Sukhoi Su-30MK/MK2


Sukhoi Su-30 merupakan pesawat tempur yang dikembangkan oleh Rusia sejak 1996. Sejumlah pengamat penerbangan menyebut pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15E Strike Eagle buatan Amerika Serikat.

Secara fisik, pesawat ini merupakan pengembangan dari Su-27UB di antaranya seri Su-30K dan Su-30MK. Konsep awal pembuatan pesawat ini tak lepas dari upaya Uni Soviet untuk menyaingi F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet.

Saat ini, TNI AU telah memiliki dua unit Su-30MK dan sembilan unit Su-30MK2. Su-30MK2 memiliki peran multifungsi dan dirancang untuk mendapatkan keunggulan udara, termasuk dalam pertempuran jarak menengah dan dogfights, dan menghancurkan target dengan semua jenis senjata.

Untuk sistem senjata, dua varian ini dilengkapi built-in GSH-301 30-mm automatic single-barrel dengan beban amunisi dari 150 putaran. Termasuk membawa 12 jenis persenjataan yang terdiri dari rudal, roket dan bom yang dipasang secara eksternal di bawah sayap dan bodi pesawat.

Pesawat ini bisa memuat rudal jarak menengah, rudal permukaan, bom udara, hingga bom nuklir.

4. KAI T-50 Golden Eagle


KAI-50 Golden Eagle sebelumnya dipakai sebagai pesawat latih supersonik canggih, kini ditingkatkan menjadi jet tempur multiperan. Di Indonesia, pesawat ini diberi nama resmi T-50i, di mana fungsinya adalah untuk pesawat latih tempur. TNI AU saat ini memiliki 16 unit KAI T-50.

Di sisi persenjataan, pesawat ini bisa dilengkapi kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru. Kemudian rudal udara ke udara pencari panas AIM-9 Sidewinder yang dipasangkan pada setiap rel di ujung sayap, serta rudal-rudal yang lain bisa dipasang di bawah sayap.

Sumber : Merdeka

Bersponsor : Agen Iklan Online

Alasan Kopassus dulu ogah latihan antiteror di Amerika

Amerika Serikat dikenal punya beberapa pasukan khusus antiteror yang cukup dikenal dunia. Di antaranya Navy Seals dan Delta Force. Namun pasukan Kopassus TNI AD tak mau meniru gaya pasukan khusus AS.

Di akhir tahun 70an, pembajakan pesawat dan aksi terorisme marak di berbagai belahan dunia. TNI merasa perlu ada satuan khusus yang memiliki kemampuan antiteror dan pembebasan sandera. Satuan yang dipilih adalah Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). Alasannya, pasukan baret merah ini sudah memiliki kemampuan khusus dan kenyang dengan pengalaman operasi tempur.

Saat itu Letjen Benny Moerdani menjabat Asisten Intelijen Hankam sekaligus Kepala Pusat Intelijen Strategis. Dia memerintahkan Letkol Sintong Panjaitan mencari formula paling tepat untuk membangun pasukan antiteror Indonesia.

Namun Benny berpesan satu hal, jangan berlatih di Amerika Serikat. Alasannya, AS terlalu mengandalkan kecanggihan alat dan keunggulan teknologi.

"Hal ini dapat menyebabkan personelnya menjadi manja," kata Sintong.

Maka Sintong melakukan pengamatan ke sejumlah negara yang sudah memiliki pasukan antiteror. Dia mengikuti pasukan Special Air Service (SAS) di Inggris. Pasukan ini memang sudah jadi legenda pasukan elite. Sintong mempelajari cara-cara penanggulangan pembajakan pesawat udara.

Selain itu dia juga belajar pada Korps Commando Troepen kerajaan Belanda. Lalu pasukan khusus angkatan laut Prancis.

Tak ketinggalan dia juga belajar pada GSG-9 atau Grenzchutzsgruppe 9. Pasukan antiteror Jerman Barat itu namanya harum berkat keberhasilan membebaskan sandera di Mogadishu, Somalia.

Sementara di Asia, Sintong memilih pasukan khusus Korea Selatan. Kelebihannya, pasukan ini selalu melakukan latihan bela diri selama empat jam setiap hari jika tak sedang melakukan operasi.

Namun Sintong mengaku tak begitu terkesan dengan apa yang ditampilkan oleh pasukan elite setiap negara. Menurutnya, setiap misi pembebasan sandera rata-rata berada di tempat yang sudah dikuasai penuh. Misi berakhir setelah sandera diselamatkan.

Hal ini berbeda dengan latihan Sandi Yudha yang dilakukan Kopasandha. Pasukan yang kelak bernama Kopassus ini dilatih untuk membebaskan tawanan di tempat yang dikuasai musuh. Jadi setelah membebaskan tawanan, mereka juga harus memikirkan bagaimana cara meloloskan diri.

Maka Sintong meramu bagaimana latihan pasukan antiteror yang cocok untuk Indonesia. Belum rampung segala persiapan, tantangan sudah lebih dulu datang. 28 Maret 1981 pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia dibajak dan diterbangkan ke Bandara Don Muang, Bangkok.

Operasi pembebasan sandera digelar tiga hari kemudian. Semua sandera berhasil diselamatkan hidup-hidup sementara beberapa pembajak ditembak mati. Operasi Woyla jadi sorotan dan membuktikan pasukan antiteror Indonesia yang baru seumur jagung sama hebatnya dengan para senior mereka di dunia.

Dalam penyerbuan ini pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante dan salah satu anggota satuan Para-Komando Kopassandha, Achmad Kirang, meninggal dalam baku tembak yang berlangsung selama operasi kilat pembebasan pesawat tersebut.

Achmad Kirang meninggal tanggal 1 April dalam perawatan di RS Bhumibhol, Bangkok, begitu pula Captain Herman Rante, meninggal di Bangkok, enam hari setelah operasi penyergapan berlangsung.

Kelak Kopassus menamakan pasukan antiterornya dengan nama Sat-81 Gultor. Angka 81 ini diambil dari tahun terjadinya peristiwa Woyla.

Sumber : Merdeka

Bersponsor : Agen Iklan Online

Pengganti Si Macan Harus Menggentarkan

April 2015 genap 35 tahun F-5E/F Tiger bertugas di TNI Angkatan Udara. Dalam waktu dekat, pemerin-tah ingin mengganti pesawat tempur yang dibuat di pabrik Northrop Corporation Amerika Serikat itu. Tahun ini, menurut rencana, pemerintah akan memutuskan penggantinya sehingga tahun 2018 pesawat tempur multifungsi pengganti itu sudah datang dan bisa beroperasi.

Sejak tahun lalu, TNI, khususnya TNI AU, memberi sinyal lebih menginginkan Sukhoi Su-35 sebagai pengganti F5. Misalnya disampaikan Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna di sela-sela Rapat Pimpinan TNI AU pada Februari 2015. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan, TNI AU menginginkan generasi pesawat tempur ke-4.5. "Kami inginkan yang punya faktor deterrence, yaitu efek gentar tinggi di kawasan," katanya.

TNI AU sudah mengajukan beberapa nama jenis pesawat kepada Kementerian Pertahanan. Selanjutnya, Kementerian Pertahanan yang akan melakukan kajian, di antaranya dari segi harga untuk satu skuadron yaitu 16 pesawat, efek gentar, spektrum ancaman, strategi pertahanan, dan faktor politik.

Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Djundan Eko Bintoro mengatakan, Kementerian Pertahanan belum memutuskan dan masih akan terus menimbang-nimbang sejumlah faktor. Namun, ada beberapa jenis pesawat calon pengganti F5 yang mencuat, yaitu F-16 blok 60 dari Lockheed Martin, Gripen E/F dari SAAB, Sukhoi Su-35, dan Typhoon dari Eurofighter.

Setiap pesawat tentu memiliki spesifikasi teknis yang harus dibanding-bandingkan kekuatan dan kelemahannya serta dipertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan Indonesia. Sukhoi Su-35, misalnya, biaya pengoperasiannya sangat tinggi, yaitu Rp 400 juta per jam. Aviationweek.com menyebutkan, salah satu versi Gripen JAS 39, yang merupakan pesawat tempur ringan mesin tunggal, biaya operasinya 7.500 dollar AS per jam atau Rp 97,5 juta per jam.

Namun, soal harga, Sukhoi bisa dikatakan paling murah. Menurut media pemerintah Rusia Behind The Headline Indonesia, Sukhoi Su-35 dijual dengan harga 38 juta dollar AS, yang berarti hampir sepertiga dari Typhoon Eurofighter yang sama-sama bermesin ganda. Namun, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Francisco Jose Viqueira Niel menyatakan masa hidup mesin jet Typhoon mencapai 30 tahun yang berarti juga sekian kali lipat dari mesin Sukhoi.

Transfer teknologi

Salah satu faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah terkait Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Kepala Bagian Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan Said Didu mengatakan, setelah pihak pengguna, dalam hal ini TNI AU, menyebutkan spesifikasinya sesuai kebutuhan, baru diselisik kembali menggunakan UU Industri Pertahanan. Salah satu amanat yang harus dipenuhi adalah soal transfer teknologi, penggunaan konten lokal, imbal dagang, dan kompensasi yang nilainya 35 persen dari harga persenjataan yang dibeli.

Said mengatakan, idealnya konten lokal, transfer teknologi, imbal dagang, dan kompensasi terkait produk yang mau dibeli langsung. Untuk pembelian pengganti F5, misalnya, bisa diadakan transfer teknologi untuk program pembuatan pesawat tempur KFX bersama Korea Selatan yang beberapa minggu lalu dinyatakan akan diteruskan. Hal ini menjadi amanat undang-undang yang harus diperjuangkan mengingat, walau secara formal pesawat-pesawat yang akan dibeli itu menyatakan siap transfer teknologi, faktanya tentu tidak semudah itu.

Selama ini, walau belum maksimal, kerja sama teknologi sudah dilakukan dengan Lockheed Martin pembuat F16 dan pabrik pesawat Spanyol, CASA, yang sekarang tergabung dalam Airbus Defence and Space. Namun, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin juga menyatakan, Rusia bersedia melakukan transfer teknologi. SAAB dalam pameran Indo Defence 2014 lalu menyatakan bersedia melakukan produksi bersama dengan PT Dirgantara Indonesia.

Merujuk aspek teknis, hal ini tentu sangat kompleks, apalagi disesuaikan dengan ketersediaan radar Indonesia dan luasnya wilayah Indonesia. Hal itu tentu menjadi tugas TNI AU untuk mengkaji sesuai kebutuhan operasional. Sebagai ilustrasi, lepas dari teknologinya, jangkauan radar saja sangat bervariasi. Gripen JAS 39 dengan PS 05/A bisa mendeteksi pesawat lain pada jarak 120 kilometer, sementara F-16 dengan radar APG-80 dengan antena AESA bisa menjangkau jarak 140 km. E-Captor yang merupakan radar terbaru Typhoon, menurut aircraft.wikia.com, bisa mendeteksi target seluas 1 meter persegi pada jarak 185 km dan pesawat penumpang normal pada jarak 370 km. Sementara Sukhoi Su-35 dengan Irbis-E radar jangkauannya mencapai 400 km.

Negara tetangga

Yang juga harus dipertimbangkan tentu pesawat jet tempur yang dimiliki negara-negara tetangga dan senjata yang melengkapi. Dari daftar yang ada terlihat kekuatan pesawat jet tempur kita masih tertinggal jauh dari segi kuantitas dan kualitas teknologi. Dalam World Defence Almanac 2014, terlihat negara-negara tetangga Indonesia telah dilengkapi dengan pesawat-pesawat generasi ke-5.

Contoh Australia, jajaran pesawat jet tempurnya terdiri dari 33 pesawat Hawk 127, 55 pesawat F-18A, 16 pesawat F-18B, dan 24 pesawat F-18F Super Hornet. Tahun 2018, pesawat tempur F-35 yang dipesan Australia diharapkan sudah datang. Malaysia saat ini memiliki 10 pesawat MiG 29N/MiG 29NUB, 6 pesawat F-5E, 2 pesawat F-5F, 2 pesawat RF-5E, 8 pesawat F-18D, 14 pesawat Hawk 208, dan 18 pesawat Sukhoi 30MK.

Singapura, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, diperkirakan memiliki 37 F-5 Tiger II, 24 pesawat F-15SG, dan 62 pesawat F-16 C/D blok 52 yang 14 di antaranya sedang dipakai latihan di AS. Tahun 2014, Singapura menambah F-15 SG menjadi 40 pesawat dan Februari 2015, Singapura menyatakan kemungkinan besar akan membeli pesawat F-35. Sementara Indonesia saat ini memiliki pesawat jet tempur yang terdiri dari 12 pesawat F-16 A/B blok 15, 5 pesawat F-16 C/D blok 25 yang di-upgrade menjadi 52, 16 pesawat Sukhoi Su-27/30 MKI, dan 9 pesawat F-5 E/F Tiger.

Terkait dengan kedaulatan udara, tentu bangsa Indonesia mengharapkan memiliki angkatan udara yang kuat dengan jet-jet tempur yang mumpuni. Namun, dalam perjalanan bangsa ini, pembelian alat utama sistem persenjataan dipersepsikan sarat dengan korupsi dan kepentingan elite tertentu. Semoga dugaan ini salah.[kenyot10/Kompas]

Bersponsor : Agen Iklan Online

Perbedaan Sniper dengan Penembak Jitu

Ilustrasi
Mungkin sering kali kita mengartikan sniper adalah penembak jitu, begitupun sebaliknya, padahal keduanya sebenarnya berbeda, baik dalam tugas maupun secara perlengkapan.

Beberapa doktrin membedakan antara penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Sniper terlatih sebagai ahli stealth dan kamuflase, sedangkan penembak jitu tidak. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infanteri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan penembak jitu tidak memakai kamuflase, dan perannya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu.

Penembak jitu umumnya memiliki jangkauan sampai 800 meter, sedangkan sniper bisa sampai 1500 meter atau lebih. Ini dikarenakan sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.

Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalyon dan tingkat kompi.

Sniper, atau penembak runduk, adalah seorang prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Istilah ini muncul pada tahun 1770-an, pada prajurit-prajurit Kolonial Inggris di India, dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak. Mereka-mereka yang mahir memburu burung ini diberi julukan "sniper".

Doktrin militer tentang sniper dalam posisinya pada unit militer, lokasi menembak, dan taktik berbeda pada setiap negara. Namun secara umum, tujuan sniper dalam peperangan adalah mengurangi kemampuan tempur musuh dengan cara membunuh sasaran yang bernilai tinggi, seperti perwira, komandan lapangan, pembawa senapan mesin ataupun pembawa alat telekomunikasi.

Bidikan teleskopik harus mendapatkan perhatian khusus, karena lensa dari alat bidik harus terbuka, tapi dalam keadaan terbuka akan dapat memantulkan cahaya matahari, dan ini bisa membeberkan posisi sniper. Solusi yang biasa digunakan adalah mencari tempat bersembunyi yang tidak terkena cahaya matahari langsung, atau dengan menutupi lensa dengan sesuatu yang tidak memantulkan cahaya, seperti sebuah kain tipis.

Sniper menggunakan kamuflase dan membatasi gerakan mereka, agar tidak bisa dideteksi. Sniper modern juga harus memperhatikan kamuflase mereka jika dilihat dengan cahaya infra-merah, karena militer modern sudah menggunakan penglihatan suhu (thermal vision), menggantikan night vision, yang hanya meningkatkan intensitas cahaya. Bahan pakaian dan peralatan bisa muncul bila dilihat dengan alat thermal vision. Maka sniper juga bisa memakai bahan lain seperti plastik, atau bahan khusus seperti selimut thermal, atau bahan lain yang tidak terdeteksi oleh thermal vision.

Di kepolisian biasanya menurunkan sniper dalam penanganan skenario penyanderaan. Mereka dilatih untuk menembak sebagai pilihan terakhir, hanya jika nyawa sandera terancam langsung. Sniper polisi biasanya beroperasi dalam jarak yang lebih dekat dari pada sniper militer. Biasanya di bawah 100 meter dan bahkan kadang kadang kurang dari 50 meter. Karena inilah sniper polisi lebih tepat disebut sebagai penembak jitu. Sniper polisi lebih terlatih menembak untuk melumpuhkan daripada membunuh, dikarenakan peran polisi sebagai pengayom masyarakat.

Senapan Runduk SPR 2 PT.Pindad
Peran seorang sniper (penembak runduk) sudah dipakai dalam perang sejak abad ke-18, tapi senapan runduk termasuk penemuan yang lumayan baru. Perkembangan teknologi, khususnya pada bidikan teleskop dan perakitan modern, membuat satuan-satuan militer bisa mempersenjatai prajurit-prajurit yang dilatih khusus dengan senjata yang bisa menembak dengan akurat pada jarak yang jauh lebih besar daripada senjata infanteri biasa.

Misi sniper adalah pengintaian dan pengamatan, anti-sniper, membunuh komandan musuh, memilih target sendiri secara oportunis, dan bahkan tugas anti material (penghancuran peralatan militer), untuk melakukan tugas ini, tim sniper memerlukan senapan berkaliber besar seperti BMG 0.50.

Selain senjatanya yang khusus, pada masa sekarang ini telescope untuk bidikan juga dipercanggih dengan infra merah dan night vision bahkan ada yang menggunakan thermal vision (pendeteksi panas tubuh), sehingga mereka bisa beroperasi siang malam dan dalam keadaan tanpa cahaya sama sekali.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khusunya untuk binocular yang digunakan oleh spotter, dibuat versi digital, di mana seorang spotter dapat memberitahuan jarak sasaran, kecepatan angin, arah angin dan suhu, di mana data-data tersebut mempengaruhi jalur peluru, sehingga penembak dapat menyesuaikan dengan memutar stelan pada bagian atas teleskopnya untuk akurasi tembakannya.

Kriteria senapan yang digunakan oleh sniper (penembak runduk) :

  • Telescopic
  • Kaliber besar
  • Peredam kilatan cahaya/api (pada saat menembak, tidak ada percikan api yang keluar dari laras senapan)
  • Sistem senjata Bolt Action
  • Kapasitas magazine paling banyak 10 peluru
  • Jarak tembak efektif 1000 s.d 2000 meter

Penembak jitu adalah istilah yang dipakai pada bidang militer. Seorang penembak jitu terlatih untuk menembak secara tepat dan akurat dengan menggunakan senapan tipe tertentu. Beberapa doktrin militer memakai penembak jitu yang tergabung dalam infanteri tingkat regu.

Salah satu awal munculnya penembak jitu adalah dalam Revolusi Amerika. Kompi senapan Amerika, yang dipersenjatai Pennsylvania/Kentucky Long Rifle, menjadi prajurit dalam Tentara Kontinental. Karena keakuratan prajurit-prajurit ini, banyak perwira Inggris yang harus mencopot lambang perwira mereka, agar tidak dijadikan target.

Pemakaian awal penembak jitu lainnya adalah pada Angkatan Darat Inggris di era Napoleon. Ketika itu, tentara lain lebih banyak menggunakan musket yang tidak akurat, tapi Green Jackets Inggris menggunakan senapan Baker yang terkenal. Dengan alur khusus di dalam larasnya, senapan ini jauh lebih akurat, walau pengisiannya lebih lama. Para pemakai senapan ini termasuk tentara elit Inggris, dan menjadi garis depan yang diandalkan pada banyak pertempuran.

Penembak jitu juga dipakai pada Perang Saudara Amerika. Penembak jitu ini digunakan oleh kedua pihak yang berperang. Prajurit elit ini terlatih dan dipersenjatai dengan baik, dan juga ditempatkan di garis depan sebagai yang pertama melawan musuh.

Karena penembak jitu modern tingkat regu (designated marksman) mengisi jeda antara infanteri biasa dengan penembak runduk, senapan penembak jitu juga dirancang sebagai penengah. Senapan penembak jitu harus memiliki jangkauan yang lebih jauh dari senapan serbu (sekitar 500 meter), tapi tidak perlu sampai jangkauan tingkat senapan runduk (lebih dari 1000 meter).

Kriteria senapan yang digunakan oleh penembak jitu (marksman) :

  • Bidikan Telescopic (karakter dari senapan runduk)
  • Kaliber lebih besar (karakter dari senapan runduk)
  • Kemampuan menembak semi otomatis (karakter dari senapan serbu)
  • Memiliki kapasitas magazine yang cukup besar (10 s.d 30 peluru) (karakter dari senapan serbu)
Sumber : Wikipedia dan beberapa sumber lainnya


Bersponsor : Agen Iklan Online

Sekilas Tentang Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha

Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha
Pesawat keempat dalam serangan udara pertama tanggal 29 juli 1947 adalah Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha. Nakajima adalah nama pabrik yang membuat pesawat ini (Nakajima Hikoki KK), Hayabusha dalam bahasa Jepang mengandung arti �Elang�. Sementara orang Amerika Serikat menyebut pesawat tersebut dengan sebutan �Oscar�. Kalau di Indonesia Pesawat tersebut sering disebut dengan Hayabusha.

Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha, saat tinggal landas di landasan pacu Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta

Pesawat tersebut terbang pertama kali pada awal Januari 1939, hasilnya sangat mengecewakan, hal tersebut karena test flight oleh Pilot Jepang merasa bahwa pesawat Ki-43 kurang lincah dalam manuver dan tidak lebih cepat dibanding pesawat sejenis sebelumnya (Ki-27). Kemudian oleh perusahaan dalam mengatasi masalah tersebut, Nakajima melewati serangkaian modifikasi prototipe 1939 dan 1940. Perubahan-perubahan meliputi penurunan berat utama, sehingga pesawat menjadi lebih ramping dengan permukaan ekor bergerak lebih jauh memanjang dan menggunakan kanopi baru.

Secara spesifik data Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha sebagai berikut :

? Buatan Tahun : 1940
? Jenis : Pesawat Pembom
? Pabrik : Nakajima Hikoki KK
? Motor : 1.150 hp Army tipe 1 (14 cl)
? Panjang sayap : 35,7 ft (10,84 m)
? Panjang pesawat : 29,3 ft (8,92 m)
? Tinggi pesawat : 10,9 ft (3,27 m)
? Berat Kosong : 4.211 lb (1.910 kg)
? Berat maksimum : 6.449 lb (2.925 kg)
? Kecepatan Maksimum : 329 ml/h (530 km/jam)
? Kecepatan Jelajah : 273 ml/h (440 km/jam)
? Jarak Jelajah : 1.094 ml (1.760 km)
? Tinggi terbang : 36.750 ft (11.200 m)
? Persenjataan : 2 Senjata mesin 12,7 mm, bom 551 lb (250 kg)
? Akomodasi : 1 crew
? Kekuatan : 1.140 daya kuda.

Menurut M. Yacub teknisi yang pernah memperbaiki pesawat tersebut, body pesawat berwarna hijau lumut, bagian perut (bawah) berwarna putih abu-abu seperti awan, dimana pertemuan dua warna tersebut samar-samar atau tidak tegas. Propeller berwarna alumunium dengan ujung berwarna hitam. Lambang merah putih terdapat di sayap bagian atas. Untuk identifikasi penerbangan pesawat tersebut diberi kode S-42.

Sebuah Pesawat Ki-43 Hayabusa sedang diperbaiki oleh para teknisi-teknisi Republik Indonesia

Pesawat Nakajima Ki-43-II Hayabusha dipersenjatai dua senapan mesin 7,7 mm yang dipasang dibagian atas kap mesin agar memudahkan pembidikan. Pelurunya bisa mencecar sampai 1300 butir permenit itu melesat lewat celah-celah putaran baling-baling.

Semula Pesawat Hayabusa akan diterbang oleh Kadet Bambang Saptoadji untuk mengawal Kadet Penerbang Mulyono, untuk mengawal Pesawat Guntei ke Semarang yang dipiloti oleh Kadet Penerbang Mulyono, yang diikuti dua pesawat Cureng yang di piloti oleh Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan Suharnoko Harbani, namun sampai tengah malam memasuki hari �H� tanggal 29 Juli 1947, Pesawat Hayabusa belum juga dapat disiapkan. Pesawat tersebut ada masalah pada mesin dan persenjataannya, meskipun para teknisi pesawat semalam suntuk telah bekerja keras untuk menyelesaikan agar pesawat bisa dinyatakan dalam kondisi siap operasional.

Melihat kenyataan tersebut bahwa kesiapan Pesawat Hayabusa belum dapat diselesaikan, maka pimpinan operasional pelaksanaan operasi Komodor Muda Udara (KMU) Halim Perdanakusuma memutuskan bahwa serangan udara atas kota Semarang hanya dilakukan oleh Pesawat Guntei saja tanpa di kawal oleh Pesawat Pemburu Hayabusa. Keputusan tersebut merupakan suatu pilihan yang berat, namun harus segera diambil, karena rencana operasi yang telah diperhitungkan dengan matang harus tetap dilaksanakan walaupun ada tantangan dan hambatan yang dihadapi.

Mendengar keputusan tersebut Kadet Penerbang Bambang Saptoadji sangat kecewa karena tidak bisa ikut berpartisipasi dalam operasi udara yang akan dilaksanakan, ia mendekati ketiga rekannya agar bisa menggantikan untuk melaksanakan operasi tersebut. Akan tetapi dari ketiga rekannya tidak ada satu pun yang bersedia digantikan. Inilah sikap ksatria dan bentuk pengabdian kepada Negara dan Bangsa yang diwariskan oleh para kadet penerbang, dimana peristiwa itu mampu mengangkat keberadaan Angkatan Udara kita yang kemudian menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu.

Sumber : TNI AU

Bersponsor : Agen Iklan Online

Sekilas tentang Kapal Hidro-Oseanografi Terbaru TNI AL

Sebagai negara yang memiliki wilayah laut yang luas dan juga menguasai 2/3 luas lautan di Asia Tenggara, adalah multak bagi Indonesia untuk mempunyai peta dasar laut yang lengkap dan memadai. Hal ini penting, pasalnya tanpa bekal informasi dan peta dasar lautan yang komplit, maka TNI AL akan kesulitan untuk gelar operasi bawah laut yang dilakukan satuan kapal selam, maupun untuk tugas anti kapal selam. Lain dari itu, pemetaan bawah laut berperan vital dalam keselematan navigasi pelayaran, baik untuk fungsi militer maupun sipil.

Peran Hidro-Oseanaografi adalah urusan mutlak bagi negara maritim, dan TNI AL (d/h ALRI) sejak tahun 1951 telah membentuk badan khusus untuk fungsi hidrogafi, kemudian saat ini badan untuk urusan survei, peneletian, publikasi , serta keselamatan navigasi pelayaran dilakukan oleh Dinas Hidro-Oseanografi (Dishidros) yang kedudukannya langsung dibawah KSAL. Seperti halnya satuan kapal eskorta, satuan kapal amfibi, dan satuan kapal cepat, maka Dishidros pun punya armada kapal tersendiri, yakni Satuan Surveihidros (Satsurveihidros).

Saat ini Satsurveihidros memiliki 5 (lima) KRI, khusus KRI yang berada di jajaran Satsurveihidros merupakan jenis kapal Bantu Hidro-Oseanografi atau yang dikenal dengan istilah BHO. Dari ke lima KRI tersebut 1 (satu) KRI Dewa Kembar 932, 1 (satu) KRI Leuser 924 dan 3 (tiga) kelas kondor yaitu KRI Pulau Rote-721, KRI Pulau Romang 723 dan KRI Pulau Rempang 729. KRI yang berada dijajaran Satsurveihidros sejatinya bukanlah merupakan jenis kapal survei namun menyikapi keterbatasan yang ada TNI Angkatan Laut memodifikasi kapal-kapal tersebut untuk dapat dijadikan kapal survei. Awalnya bahwa kapal-kapal tersebut merupakan kapal tipe rumah sakit, kapal tunda samudera dan kapal penyapu ranjau sehingga memiliki nama dan nomor lambung yang berbeda namun memiliki fungsi azasi yang sama sebagai kapal survei. KRI yang berada di jajaran Satsurveihidros merupakan jenis kapal Bantu Hidro-Oseanografi atau yang dikenal dengan istilah BHO.

Dibanding satuan kapal lain di lingkungan armada TNI AL, Satsurveihidros bisa dikata yang paling jarang mendapat update pengadaan kapal. Nyaris tidak terdengar ada tambahan kapal baru untuk Satsurveihidros. Untuk saat ini, sejatinya hanya ada satu kapal, yakni KRI Dewa Kembar 932 yang punya asasi sebagai kapal survei dan riset bawah air. Kapal ini pun bukan barang baru, KRI Dewa Kembar sebelumnya bernama HMS Hydra buatan tahun 1964, kemudian dibeli TNI AL pada Mei 1986 (indomiliter).

KASAL Laksamana TNI Dr. Marsetio secara simbolis melepas peluncuran kapal Bantu Hidro Oseanografi-1 (BHO-1) di dermaga galangan kapal OCEA Les Sables d�Olonne, Prancis.


Dan bertempat di dermaga galangan kapal OCEA Les Sables d�Olonne, Prancis, telah dilaksanakan acara peluncuran kapal Bantu Hidro Oseanografi-1 (BHO-1) oleh Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, pada Kamis, (11/12/2014). Acara peluncuran kapal ditandai dengan pemotongan tali menggunakan kapak sebagai tanda simbolis peluncuran kapal BHO-1.

Berdasarkan kontrak pengadaan kapal BHO yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan pihak galangan OCEA Prancis, maka dilaksanakan pembangunan kapal sebanyak 2 (dua) buah yang dimulai sejak bulan Oktober 2013. Kapal BHO-1 dengan nomor lambung 933 ini terbuat dari aluminium dengan bobot 515 ton, memiliki dimensi panjang 60,1 meter dan lebar 11,3 meter direncanakan kapal yang memiliki awak 40 personil ini, akan berlayar menuju Indonesia pada bulan Maret 2015.

Kapal BHO produksi OCEA ini merupakan kapal survei dan pemetaan yang canggih karena dilengkapi dengan peralatan survei hidro-oseanografi terbaru yang dapat digunakan untuk pengumpulan data sampai dengan laut dalam (deep water). Kapal BHO ini merupakan jenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel) yang merupakan sejarah baru di jajaran kapal-kapal TNI AL dalam memodernisasi armada kapal khususnya kapal survei hidro-oseanografi. Kehadiran kapal BHO sangatlah tepat jika dihadapkan dengan kondisi geografis negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, sehingga tugas pokok dalam rangka melaksanakan survei dan pemetaan dapat terlaksana.

Kapal ini dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama dalam hal ini kapal BHO. Selain itu juga dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), robot bawah air yang dilengkapi kamera bawah air, sehingga dapat memberikan informasi visual kondisi di dalam laut, serta mampu mengambil contoh material dasar laut sebagai bahan penelitian, dengan kemampuan sampai dengan kedalaman 1000 meter.

Dalam melaksanakan manuver kapal ini dilengkapi dengan Dynamic Position, Auto Pilot 70 dan stabilitas kapal menggunakan Anti Rolling Tank. Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan metraliur kaliber 20 mm dan kaliber 12,7 mm. Dalam pengoperasian nantinya, kapal BHO ini diharapkan dapat lebih mendukung peran Dinas Hidro-oseanografi TNI AL (Dishidros) pada khususnya dan TNI AL pada umumnya dalam melaksanakan kemampuan survei dan pemetaan untuk kepentingan militer dan sipil yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan pembangunan Indonesia (PR).






Sumber/Referensi : Pikiran Rakyat & Indomiliter

Bersponsor : Agen Iklan Online

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

Rudal anti kapal RBS (Robotsystem)-15 MK3 merupakan rudal buatan dua manufaktur senjata asal Eropa Barat, yakni Saab Bofors Dynamic, Swedia dan Diehl BGT Defence, Jerman.

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

Rudal ini rencanannya akan digunakan oleh TNI AL untuk dipasang di kapal perang trimaran KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class, yang pada bulan Agustus (2014) lalu TNI AL telah resmi memesan 4 unit KCR Klewang Class dari PT. Lundin Industry Invest (North Sea Boats)

Nantinya KCR Klewang Class akan dibekali 4 unit peluncur rudal RBS-15 MK3 pada tiap kapal. Rudal RBS-15 diluncurkan dengan pola menyamping.

RBS-15 adalah rudal multi platform, artinya dapat diluncurkan dari kendaraan di darat (truk), aneka jenis kapal perang, serta pesawat tempur. Meski varian perdananya lebih muda dari MM38 Exocet, namun RBS-15 MK1 sudah mulai digunakan AL Swedia pada tahun 1984. Dan yang akan diadopsi TNI AL adalah varian terbaru dan paling canggih, RBS-15 MK3. Dari spesifikasi, RBS-15 MK3 masuk kelas rudal jelajah yang pola operasinya fire and forget.

Kami menerima penerbitan content placement pemasangan content placement untuk jangka pendek dengan minimal satu kali mengirim content placement, dan menerima kerjasama jangka panjang yang anda inginkan, dengan harga yang cukup terjangkau bahkan bisa dibilang sangat murah.

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

Untuk varian yang diluncurkan dari kapal perang, RBS-15 MK3 bisa dipasang mulai dari kelas frigat, korvet, sampai level kapal cepat. Salah satu kemudahan yang ditawarkan adalah kemudahan dalam integrasi ke CMS (Combat Management System) dan dapat dioperasikan secara stand alone, atau bisa juga secara full integrated architecture.

Sebagai rudal anti kapal berkemampuan jelajah, RBS-15 MK3 bisa bekerja dengan pola beyond the horizon operation, pasalnya jangkauan rudal ini bisa tembus diatas 200 Km. Untuk melibas sasaran di balik cakralawa, RBS-15 MK3 dapat bermanuver diantara beberapa pulau, hal ini berkat sokongan teknologi navigasi 3D multiple waypoint. Dengan multiple waypoint, menjadikan arah dan alur gerakan rudal lebih sulit terdeteksi oleh lawan.

Meski berasal dari lingkungan produksi yang berhawa dingin di Swedia, tapi Saab merancang rudal ini untuk dapat beroperasi optimal dalam cuaca panas dengan suhu gurun di kisaran 40 derajat Celcius. Rudal ini pun dapat meluncur dalam cuaca dingin dan berkabut dengan suhu -22 derajat Celcius.

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

Untuk meluncur ke sasaran, RBS-15 mengandalkan seeker berupa high resolution active radar Ku band dan radar altimeter, sementara untuk setup navigasi menggunakan kombinasi GPS (Global Positioning System) dan INS (Inertial Navigation System).

Untuk memburu sasaran, RBS-15 MK3 mengusung kecepatan subsonic 0,9 Mach (1.126 km per jam). Untuk urusan bobot, RBS-15 MK3 terbilang bongsor dengan panjang 4,35 meter, dan berat rudal saat mengudara yakni 630 Kg, sementara berat jika dihitung dengan booster mencapai 800 Kg.

Dapur pacu rudal ini ditenagai mesin TR60-5 variable thrust turbo jet buatan Microturbo (Turbomeca). Karena menggunakan mesin jet, maka sudah keharusan bila rudal ini dilengkapi fuselage dengan diameter lubang 0,5 meter.

Dalam skema operasi, saat pertama lepas dari peluncur, rudal akan dibantu oleh dua booster motor. Saat keluar dari tabung peluncur, sirip rudal dalam keadaan terlipat, sesaat setelah mengudara sirip akan mengembang dengan lebar 1,4 meter.

Untuk mengelak dari pendeteksian, RBS-15 MK3 dirancang untuk tidak mudah terendus penjejak dari infra red dan radar cross section. Saab juga telah mempersiapkan RBS-15 MK3 bila menghadapi chaff yang ditebar kapal sasaran, plus dapat menangkal jammer aktif, decoy, serta perangkat perang elektronik lainnya.

Sistem komputernya dapat mengatur kerja sensor untuk menghadapi situasi tak terduga lewat MEPS (missile engagement planning system). Semisal untuk menghindari terjangan kanon CIWS (Close In Weapon System), rudal akan bermanuver tinggi dan melaju secara sea skimming (terbang rendah di atas permukaan laut). Hulu ledak yang dibawa seberat 200 Kg HE (High Explosive) fragmented warhead.

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

RBS-15 diluncurkan dari kapal perang

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

RBS-15 dapat digotong oleh jet Gripen

Mengenal Rudal RBS-15 MK3

RBS-15 diluncurkan dari truk

Selain digunakan AL Swedia, RBS-15 MK3 saat ini telah digunakan oleh AL Jerman, AL Finlandia, dan AL Polandia. Di AL Swedia, RBS-15 MK3 sudah terpasang di korvet stealth Visby Class.

Sedangkan AL Jerman sejak tahun 2005 memasang RBS-15 MK3 di korvet K130, dan AL Polandia memasang rudal ini di kapal cepat Orkan Class. Dalam paket jualnya, pihak Saab menjamin dukungan service hingga usia pakai 30 tahun. Bila RBS-15 MK3 jadi digunakan TNI AL, maka Indonesia bisa menjadi pasar pertama rudal ini di Asia.

Jadilah agen iklan kami hasilkan jutaan rupiah selamanya, Kami sedang mencari agen periklanan ini disetiap desa atau kelurahan di seluruh Indonesia, yang mau bekerja secara partime atau paruh waktu baik melalui online maupun nyata, dan ini tidak terikat target khusus.

RBS-15 MK3 dapat dilengkapi dengan hulu ledak heavy HE blast-fragmentation yang sangat efisien dalam menembus lambung dari setiap kapal modern. Namun, meski dibekali beragam sensor dan kemampuan jelajah yang cukup meyakinkan, sayang kecepatan rudal ini belum masuk level supersonic.

Spesifikasi RBS-15 MK3

Length : 4,35 meter
Fuselage diameter : 0,50 meter
Wingspan : 1,4 meter
Weight (in flight) 630 kg
Weight (w. boosters) 800 kg
Seeker : Active radar
Speed : 0,9 Mach (subsonic)
Range : >200 km
Trajectory : Multiple 3D waypoints

Bersponsor : Agen Iklan Online

Panser Badak Andalan Pindad

Setelah melewati masa pengembangan yang panjang, Pindad akhirnya melansir panser kanon yang kemudian dinamai Badak (Rhinoceros) oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pameran Indo Defense 2014. Dikatakan panjang, karena niatan Pindad untuk membuat panser kanon sesungguhnya sudah dimulai sejak 2009, dengan purwarupa pertama selesai pada 2011 dan dipaparkan oleh Pindad dalam sarasehan mengenai panser kanon bersama Pussenkav. Ketika itu, purwarupa pertama masih menggunakan kubah milik tank Alvis Scorpion dengan meriam 90mm Low Pressure Cockerill Mk III.

Panser Badak
Tahun demi tahun berlalu, dan Pindad melanjutkan ke purwarupa kedua, diberi nama Bee. Masih menggunakan kubah Alvis, Bee dimodifikasi pada sistem otomotif terutama suspensi, dengan penjarangan roda ketiga dari roda pertama dan kedua untuk memperbaiki titik beratnya. Sementara itu, TNI AD malah merealisasikan pembelian ranpur Doosan Tarantula, dengan sistem senjata utama kanon 90mm Mk III dalam kubah CSE90LP, Dengan spek setara panser kanon buatan Pindad, sepertinya produk dalam negeri kalah skor 1-0 dalam pertempuran panjang merebut kemandirian bangsa dalam bidang alutsista. Pindad hanya kebagian transfer of technology berupa integrasi kubah ke dalam hull Tarantula.

Pada tahun  2014, akhirnya Pindad "comeback" dengan meluncurkan panser kanon dalam speknya yang definitif. Dengan merubah beberapa tampilan dari purwarupanya yang terakhir, Pindad membuat beberapa kemajuan. Pertama, Pindad akhirnya memperoleh kepastian pasokan baja armor grade dari pabrik baja dalam negeri Posco-Krakatau Steel melalui MoU yang ditandatangani pelaksana tugas Dirut PT Pindad dan Dirut Posco-Krakatau Steel pada pembukaan Indo Defense 201. Baja kualitas militer ini menjadi krusial karena Pindad berulangkali masih harus mengimpor baja dari luar negeri dalam proses yang tidak ekonomis karena harus membayar pajak bea masuk atas lembaran baja tersebut, belum lagi ditilik dari segi kemandirian pembuatan alutsista. Yang kedua, Pindad juga dijanjikan akan melakukan perakitan sistem kubah CSE90LP, sehingga nama kubah ini kelak menjadi CSE90LP- P untuk Pindad. Yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pindad dan Kementrian Pertahanan adalah membangun industri mesin yang aplikatif untuk kendaraan besar termasuk kendaraan militer, karena Indonesia sama sekali tidak memiliki dan bahkan masih sangat tergantung dengan impor. Begitu pula dengan industri sistem optik dan kendali penembakan untuk kendaraan darat.

Panser Badak
Walaupun dari segi kemampuan kanon 90mm Low Pressure sudah termasuk ketinggalan jaman, tetapi pemakainya masih banyak, seperti tank Scorpion dan panser V150 kanon milik TNI AD, ataupun Sibmas dan Scorpion milik AD Diraja Malaysia, dan jangan lupa V300 milik AD Filipina. Dengan anggaran militer pas-pasan dari negara penggunanya, diperkirakan masih akan ada pasar untuk sistem senjata ini setidaknya 15-20 tahun kedepan.

Kanon 90mm Low Pressure Cockerill MkIII memiliki varian munisi yang cukup banyak, mulai dari HE, HEAT, dan bahkan APFSDS dengan rating penetrasi 100mm RHA pada kemiringan 60o pada jarak 1.000m, jadi jangan mengharapkannya atau bermimpi menjebol Main Battle Tank. Untuk operasi anti gerilya menghadapi insurjen yang lari di balik rerimbunan pohon, bolehlah. Akurasinya juga oke punya, pengujian internal Kavaleri atas sistem senjata serupa di atas Tarantula mampu menghasilkan bullseye, berkat akurasi sistem laser rangefinder dalam memberikan pembacaan jarak. Pindad sendiri telah mampu membuat sebagian munisi 90mm ini, jadi kesempatan dan peluang pasar untuk Pindad sebagai centre of excellence dari sistem senjata 90mm MkIII tersebut masih terbuka lebar.

Panser Badak
Kembali ke soal hull, Pindad meracik Badak sedikit berbeda dengan dua purwarupa pendahulunya. Bentuk glacis di sisi atas terlihat sangat melandai, untuk memberikan kemampuan menahan impak peluru dengan lebih baik, bahkan memaksanya memantul. Pindad memberi jaminan bahwa Badak dengan kulitnya yang keras memenuhi standar NATO STANAG 4569 Level III, atau mampu menahan impak peluru 7,62x51mm AP (Armor Piercing) standar NATO dari jarak 30 meter. Seperti kebiasaan Pindad yang sebelumnya mendandani Anoa dengan lapisan applique tambahan, Badak juga bisa ditingkatkan perlindungannya, setidaknya mampu menahan impak peluru 14,5mm. Bentuk glacis atas yang melandai ini juga membantu memberikan sudut tunduk laras yang lebih besar, sehingga apabila Badak ada di atas perbukitan, meriam masih mampu menyasar sasaran dibawahnya.

Bentuk glacis yang melandai ekstrim ini juga membawa pengaruh pada posisi duduk pengemudi yang ditempatkan di sebelah kanan depan. Tidak menggunakan tutup palka biasa, pada Badak palka pengemudi dibuat tidak flush alias sedikit menonjol dari pelat atas kendaraan, untuk memberikan ruang pandang yang memadai. Tersedia tiga periskop panoramik untuk pengemudi, sesuatu yang cukup �wah� untuk ranpur semacam ini yang biasanya hanya dilengkapi satu periskop prisma. Tersedia kamera di sisi belakang yang terhubung ke display untuk pengemudi, membantu saat memundurkan kendaraan.

Di sebelah kiri pengemudi terdapat mesin Diesel inline 6 silinder yang dilengkapi turbocharger, mampu menyemburkan daya sampai dengan 320hp. Dengan bobot kendaraan hanya pada kisaran 11 ton, power to weight rationya mencapai 29hp/ ton, tidak heran Badak bisa dipacu dengan sangat kencang sampai kecepatan 90km/ jam di jalanan aspal mulus dan rata. Di tengah kendaraan terpasang kubah CSE90LP, dimana (dari atas) komandan duduk di sebelah kiri, dan juru tembak duduk di sebelah kanan. Komandan memiliki lima periskop prisma dan satu periskop besar hadap depan, sementara juru tembak memiliki empat periskop dan satu periskop bidik besar yang bisa dilengkapi dengan beragam sistem mulai dari kamera pandang malam, kamera termal, sampai dengan kamera infra merah. Meriam berulir 90mm ditemani oleh senapan mesin koaksial 7,62 x 51mm NATO di sebelah kiri untuk menyapu habis ancaman pasukan infantri. Untuk fungsi anti infantri/ helikopter, disediakan pintle mount pada sisi komandan untuk memasang senapan mesin sedang seperti FN MAG, MG3, atau bila diperlukan, opsi dudukan senapan mesin berat seperti CIS 50MG.

Panser Badak
Potensi sang Badak

Sebagai ranpur kelas 10 ton, Pindad sudah dapat diacungi jempol mengingat hasil kerja keras mereka akhirnya terwujud dalam kendaraan produksi final. Melihat kemampuannya, Badak boleh dikatakan setara atau bahkan melebihi kemampuan 22 unit Tarantula yang kadung dibeli oleh TNI AD, menandakan bahwa untuk kelas kendaraan panser kanon, Indonesia sebagian besar sudah mampu mandiri dan tidak tergantung dari Negara luar lagi. Yang patut disayangkan adalah sistem senjata yang dipilih. CMI sebagai pemasok memiliki banyak varian kubah dan meriam, dan boleh dikatakan CSE90LP kelasnya ada di bawah Badak. Meriam 90mm Low Pressure sewajarnya merupakan senjata bagi ranpur kelas 4x4 seperti V150 (versi modernnya saat ini dikenal sebagai Textron COMMANDO Select), bukan 6x6. Pindad harus berani melirik meriam 90mm medium pressure seperti yang terpasang pada kubah CMI CT-CV 90MP/ LCTS 90MP. Meriam yang merupakan turunan dari Cockerill Mk8 KEnerga ini mampu menggasak tank sekelas T-72 (generasi awal) dan M60. Apalagi CMI sudah menyebut bahwa LCTS 90MP mampu digotong oleh ranpur kelas 10 ton, dan sudah dibuktikan pada SIBMAS 6x6. TNI sebagai user juga sudah harus membuka mata dan melakukan update atas pengetahuan yang mereka miliki, jangan melulu terpaku pada kanon 90mm low pressure yang sudah usang dan kalah dari kanon tembak cepat 25/30/40mm!.

PINDAD BADAK 6x6

  • Panjang : 6 m
  • Lebar : 2,5 m
  • Tinggi : 2,9 m
  • Wheelbase : 1,5 m
  • Bobot : 11 ton
  • Power to weight ratio : 22,85-29 hp/ ton
  • Ground clearance : 400 mm
  • Max speed : 90 km/ jam
  • Sudut tanjakan : 60o
  • Sudut kemiringan : 30o
  • Arung air : 1 m
  • Halangan parit : max. 0,75 m
  • Radius putar : 10 m
  • Jarak tempuh : 600 km
  • Mesin : Diesel inline turbocharger intercooler 6 silinder daya 320 hp dengan transmisi otomatis 6 maju dan 1 mundur
Sistem senjata

  • Kubah CSE 90LP dengan kanon 90mm rifled dan koaksial 7,62 mm
  • Pintle mount 7,62 mm
  • 66mm smoke discharger
Sumber : ARC
Photo : Pindad


Bersponsor : Agen Iklan Online

close
Jadi Agen Iklan