Medali bintang gerilya merupakan salah satu tanda kehormatan yang diberikan negara kepada warganya. Memang bukan gelar tertinggi yang pernah dianugerahkan, namun merupakan tanda kehormatan tertua dan tak semua orang berhak memilikinya.
Bintang gerilya diberikan kepada warga negara RI yang ikut ambil bagian dalam perjuangan mempertahankan republik sejak tahun 1945-1949. Dalam periode teraebut, Indonesia yang baru mencicipi kemerdekaan diguncang Agresi Militer Belanda I (20 Juni 1947 - 22 Februari 1948) dan Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948 - 27 Desember 1949). Perjuangan pada rentang waktu tersebut sangat vital bagi kedaulatan negara. Sebab dua agresi yang dilancarkan oleh Belanda dan Sekutu ini merupakan upaya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negeri jajahan.
Bintang gerilya pertama kali diberikan pada tahun 1949 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8/1949. Idealnya, semua veteran pejuang 1945-1949 yang memenuhi syarat akan mendapatkan tanda kehormatan tersebut. Namun pada kenyataannya, tak sedikit mantan pejuang yang tidak memiliki bintang gerilya, adapun beberapa veteran yang baru menerima bintang gerilya setelah 68 tahun.
Tentunya mereka tidak mengharapkan penghargaan atas perjuangan fisik yang dilakukan secara sukarela. Bahkan meskipun pemberian bintang gerilya disertai tunjangan pensiun dan hak untuk dimakamkan di taman makam pahlawan.
Namun sudah sewajarnya jika jasa mereka diingat dan dihargai dengan pantas. Setidaknya agar masa tua mereka tidak menjadi salah satu kisah ironis yang sering kita baca di media.
Bintang Gerilya berbentuk sebagai berikut:
Bintang Gerilya (Wikipedia)
Sebuah bintang bersudut lima dibuat dari baja dengan garis tengah 42 milimeter dan tengah-tengah di dalam lingkaran dengan garis tengah 20 milimeter dilukiskan tulisan �PAHLAWAN GERILYA� dengan dilingkari rangkaian padi.
Bintang disertai Patra yang bentuk dan kombinasinya sama dengan bintangnya, berukuran garis tengah 60 mm.
Pita Bintang berupa Pita Kalung yang berukuran lebar 35 mm dan berwarna dasar merah dengan 3 lajur berwarna putih lebar 3.5 mm yang membagi dalam bagian-bagian yang sama.
Merdeka
Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan 👉 Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!
Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
KRI Irian 201, Simbol Persahabatan Soviet dan Indonesia di Tahun 60-an
Penjelajah "Ordzhonikidze" di Samudera Hindia. Sumber:Ria Novosti
Hubungan Uni Soviet dan Indonesia pasca-Perang Dunia II mulai berkembang dengan pesat sejak keduanya menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1950. Pada saat itu, Uni Soviet membutuhkan sekutu, sedangkan Indonesia membutuhkan dukungan dalam menyingkirkan sisa-sisa Pemerintahan Kolonial Belanda.
Puncak kemesraan antara kedua negara berlangsung pada awal tahun 1960-an, yaitu saat Uni Soviet �membangun� Angkatan Bersenjata Indonesia dari nol. Soviet bahkan mengirimkan angkatan bersenjatanya ke Indonesia. Di antara peralatan militer yang mengeluarkan biaya berkisar satu miliar dolar AS, yang paling menonjol adalah proyek Cruiser 68-bis "Ordzhonikidze" yang dinamakan sebagai KRI Irian 201.
Kapal ini menjadi kapal perang Soviet yang pertama dalam sejarah pascapeperangan yang dialihkan kepada negara asing. Namun, sejarah kapal ini dimulai pada awal perang kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia, para insinyur Soviet ditugaskan membangun armada Indonesia yang lemah pascaperang. Proyek 68-bis memiliki banyak hal unik. Untuk pertama kalinya, insinyur Soviet menggunakan teknologi pengelasan pada lambung kapal dan pengelasan satuan badan kapal yang berbobot 100�150 ton.
Pada akhirnya, terciptalah dengan sukses serangkaian kapal perang yang tak serupa dengan armada negara asing lainnya. Berbeda dengan kapal negara lainnya, kapal perang ini mengangkut meriam kaliber kecil, yaitu meriam kaliber 150 mm sebagai pengganti kaliber 203 mm yang diimbangi dengan performa yang baik. Karena menggunakan senjata kaliber kecil, kapal pun menjadi lebih ringan sehingga bisa meningkatkan survivabilitas kapal. Raksasa ini mengangkut 12 meriam utama kaliber 152 mm, 12 meriam kaliber 100 mm, dan 32 meriam kaliber 37 mm. Selain itu, kapal ini mampu mengangkut hasil tambang dan membawa dua set torpedo tabung kaliber 533 mm.
Kapal "Ordzhonikidze" adalah kapal ketiga dalam rangkaian seri dan dinamai untuk menghormati revolusioner dan politikus Soviet Grigory Ordzhonikidze. Kapal Angkatan Laut Soviet tiba pada tahun 1952. Meskipun masa bakti kapal ini cukup singkat (kapal ini menjadi bagian dari Angkatan Laut Uni Soviet selama 10 tahun), kapal ini setidaknya pernah dua kali masuk dalam sejarah Perang Dingin.
Kejadian pertama terjadi pada saat kunjungan Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev di Portsmouth dengan Ordzhonekidze. Saat itu, penyelam strategis Inggris menyelam ke bawah kapal Ordzhonekidze. Tujuan tindakan ini tidak sepenuhnya diketahui, tapi menurut versi lain, mereka ingin memasang bom. Namun hal ini justru berujung pada kematian salah satu pengunjung, yaitu perenang Angkatan Laut Kerajaan Inggris sekaligus intelijen MI6 Lionel Crabb. Jenazahnya tanpa kepala dan tangannya ditemukan 14 bulan setelah kejadian tersebut.
Episode kedua adalah titik balik nasib kapal tersebut dan segala hubungan yang berkaitan antara Uni Soviet dan Indonesia. Namun, hanya sedikit yang kita ketahui mengenai seperti apa sebenarnya peran Soviet dalam membantu perjuangan kemerdekakan Indonesia di dunia.
�Petualangan� kebijakan luar negeri Soviet dimulai dengan kunjungan Nikita Khrushchev ke Indonesia pada bulan Februari 1960. Selama kunjungan tersebut, terjadi penandatanganan perjanjian untuk penyediaan kapal, pesawat, helikopter, tank, dan senjata lainnya. Tidak diragukan lagi, yang paling mahal di antara daftar tersebut adalah kapal penjelajah "Ordzhonikidze".
Kapal ini berangkat ke Indonesia pada bulan April 1962, hanya selang empat bulan sebelum berakhirnya operasi kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia, yang pada saat itu tidak mau dilepaskan oleh Belanda. Dari sini terlihat bahwa peran Uni Soviet dalam momen-momen ini sangat jelas terlihat. Menurut publikasi terakhir yang muncul di media Rusia, pada masa itu Uni Soviet tidak hanya berkomitmen untuk menyediakan pesawat tempur dan peralatan lainnya untuk menyiapkan militer Indonesia. Para perwira dan tentara Soviet terlibat di sebagian pos perang di kapal perang dan kapal selam. Uni Soviet bahkan berhadap dengan sekutu Belanda di NATO, yaitu Inggris dan Amerika dengan pilihan antara kemerdekaan Indonesia atau dimulainya Perang Dunia III. Namun, ternyata mitra Belanda�Inggris dan Amerika�tidak mau memperjuangkan kepentingan Belanda di Indonesia.
Pada akhir masa bakti Ordzhinikidze/Irian menjadi saksi bisu runtuhnya hubungan Soviet dan Indonesia. Setelah upaya kudeta yang dilakukan oleh Gerakan 30 September dan pemerintahan baru mulai berkuasa, Soeharto melarang Partai Komunis dan serikat buruh. Ia melakukan penyensoran dan menindas lawan-lawan politiknya. Simbol persahabatan Soviet dan Indonesia berubah menjadi penjara bagi para pembangkang. Pada tahun 1972 kapal tersebut dilucuti dan penjualan kepada Pemerintah Indonesia pun dibatalkan.
Kisah-kisah lucu di balik pertempuran heroik 10 November 1945
Salah satu tokoh pertempuran itu adalah Sutomo yang terkenal dengan panggilan Bung Tomo. Dia menjadi pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Bung Tomo pula yang menggelorakan perlawanan rakyat lewat pidato-pidatonya di radio.
Dengan suara lantang berapi-api, pidato Bung Tomo disiarkan Radio Pemberontak dan disebarluaskan jaringan lain.
"Sesungguhnya Surabaya adalah Indonesia dan Indonesia adalah Surabaya. Kehormatan Republik Indonesia dipertaruhkan di Surabaya," kata Bung Tomo.
Rakyat Indonesia tak gentar menolak ultimatum Inggris yang menyuruh mereka menyerahkan senjata. Mereka tahu tentara Inggris bukan prajurit sembarangan. Inggris adalah pemenang Perang Dunia ke-II yang mengalahkan aliansi Jerman di Eropa dan Imperium Jepang di Asia. Tapi buat rakyat, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup sebagai bangsa terjajah kembali.
Pertempuran Surabaya juga menjadi bukti Bhinneka Tunggal Ika. Bukan hanya rakyat Surabaya yang berperang menghadapi Inggris. Pemuda Maluku, Jawa, Sumatera, Sulawesi, semuanya ikut bertempur di garis depan. Satu perjuangan, satu darah, satu Indonesia.
Banyak kisah menarik seputar pertempuran legendaris itu. Tak cuma yang gagah berani, ada juga yang lucu dan membuat senyum.
Berikut kisah-kisah tersebut seperti dituturkan Bung Tomo dalam bukunya yang berjudul '10 November'
1. Bung Tomo malah ditawan pejuang
Dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, siapa yang tak kenal perjuangn Bung Tomo. Namun rupanya Bung Tomo punya pengalaman unik malah ditawan rekan-rekan sesama pejuang.
Ceritanya saat itu Bung Tomo sangat populer karena pidato-pidatonya. Hal ini dinilai bisa membahayakan keselamatan Bung Karno. Maklum, banyak kaki tangan Belanda dan Inggris yang berkeliaran.
Suatu hari datanglah satu pasukan bersenjata ke rumah Bung Tomo. Mereka menjemput dan menahan Bung Tomo. Hal itu membuat ibunda Bung Tomo sangat khawatir. Pada masa itu, dengan tuduhan mata-mata saja, seseoang bisa langsung ditembak mati.
Bung Tomo pun merasa heran. Apa salahnya sampai ditawan para pejuang. Dia ditahan dengan dikawal seorang pemuda dengan pisau bayonet terhunus. Jika ditanya, para pemuda itu mengaku hanya menjalankan perintah.
"Akhirnya aku hanya memasrahkan diri kepada Tuhan," ujar Bung Tomo.
Baru akhirnya saat pemimpin pemuda itu menghubungi Markas Besar Tentara semuanya menjadi jelas. Pemimpin Markas Besar Tentara Jawa Timur Dr Mustopo memerintahkan Pemuda Republik Indonesia (RPI) untuk melindungi Bung Tomo.
Karena Bung Tomo bukan tentara atau polisi, maka tak bisa dikawal oleh aparat sehingga RPI yang ditugaskan. Nah, RPI ini salah menerjemahkan perintah. Mereka mengira 'melindungi' untuk Bung Tomo sama artinya dengan perintah untuk 'melindungi' antek-antek Belanda.
Pada masa itu, kata 'melindungi' biasa digunakan untuk kode menangkap dan menahan antek-antek Belanda. Kira-kira sama artinya dengan kata-kata aparat 'mengamankan' pada saat ini yang artinya menangkap.
Padahal perintah buat mereka melindungi Bung Tomo jelas untuk menjaga keselamatan Bung Tomo yang menjadi penyiar radio pejuang.
Setelah sadar akan kesalahan ini mereka pun tertawa dan segera melepaskan Bung Tomo. Keluarga Bung Tomo pun lega bukan main saat mendengar suara anak mereka kembali mengudara sore harinya.
2. Tentara Sekutu pintar-pintar
24 Oktober 1945, dari pelabuhan sudah terlihat jelas armada Inggris akan memasuki Surabaya. Bersama mereka Belanda ikut membonceng.
Rakyat Surabaya tak sudi lagi dijajah. Kepala Markas Besar Tentara Jawa Timur Dr Mustopo segera berbicara lewat corong Radio Surabaya. Apa yang diucapkan Mustopo adalah jeritan hatinya. Tapi kok malah memuji Inggris?
"Jeritan yang diucapkan DR Mustopo dengan sepenuh jiwa dan hati tersebut kadang terdengar menggelikan sekali. Apalagi yang mengucapkannya seorang Kepala Markas Besar Tentara," kata Bung Tomo.
Berikut bunyi pidato DR Mustopo:
"NICA, NICA, NICA jangan mendarat. Inggris, kamu jangan mendarat. Kamu tahu aturan Inggris, kamu pintar, sudah sekolah tinggi. Kamu tahu aturan, jangan mendarat. NICA, NICA, NICA!"
Namun Bung Tomo mengakui pidato DR Mustopo itu adalah cermin suara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia yang saat itu tak berpendidikan saja tahu kedatangan Inggris akan mendatangkan banyak masalah.
3. Bayonet Jepang ditukar pisau dapur
Bung Tomo adalah salah satu pemuda yang aktif melobi Jepang untuk menyerahkan senjata pada para pejung Indonesia. Hal ini tak mudah, karena banyak tentara Jepang yang menolak menyerahkan senjata. Mereka beranggapan tugas mereka tetap menjaga ketertiban di Indonesia sampai sekutu datang.
Awalnya bermodal kartu pers wartawan Domei, Bung Tomo membohongi prajurit Jepang. Dia mengatakan pembesar tentara Dai Nippon sudah setuju mengalihkan kekuasaan pada Bung Karno. Di tempat lain pun sudah banyak tentara Jepang yang menyerahkan senjatanya pada pemuda Indonesia untuk menghadapi Belanda.
"Demikianlah isapan jempol yang kuceritakan dengan semangat," kata Bung Tomo.
Akhirnya tentara Jepang itu mau menyerahkan senjatanya.
Di kesempatan lain, saat penyerahan senjata, seorang prajurit Jepang mengadu pada Bung Tomo. Dia mengaku pemuda Indonesia mau merampas bayonetnya. Padahal bayonet itu sangat penting baginya karena dia seorang tukang masak.
Bung Tomo pun tak kehabisan akal. Dia menyuruh pemuda Indonesia itu untuk mencari pisau dapur guna ditukar dengan bayonet sang tentara Jepang.
4. Granat dilempar tak meledak
Kisah ini jadi bukti keberanian rakyat Surabaya. Tanpa pengetahuan dan pengalaman militer, mereka berani menghadapi tentara Inggris.
Saat itu rakyat Surabaya mengepung penjara Koblen yang dijadikan pertahanan tentara Inggris dan Gurkha. Mereka melempari musuh dengan granat hasil rampasan tentara Jepang. Namun granat yang dilemparkan para pejuang itu tak meledak.
Beberapa saat kemudian, tentara Gurkha 'mengembalikan' granat-granat tersebut ke arah para pejuang dan meledak semua. Banyak pejuang terheran-heran.
Rupanya saat para pejuang itu melemparkan granat, mereka tidak tahu harus mencabut picunya terlebih dahulu. Pantas saja tak ada yang meledak.
"Mereka menyangka granat itu akan meledak dengan sendirinya jika terbentur tembok atau tanah," kata Bung Tomo.
Sumber : Merdeka
5 Cerita di awal berdirinya TNI
Tentara Nasional Indonesia (TNI) genap berusia 69 tahun hari ini (5 Oktober 2014). TNI boleh berbangga dengan beragam alutsista yang saat ini dimiliki, baik oleh TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, dari beragam alutsista tersebut sebagian merupakan produk dalam negeri, seperti Kapal Cepat Rudal 40 dan 60 meter, dan ini belum termasuk rencana pengadaan alutsista kedepannya, seperti kerjasama dengan Belanda dalam pembuatan Kapal perang fregat jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) atau kerjasama dengan Korea Selatan dalam pembuatan Kapal Selam.
Melihat dari sejarah, TNI awalnya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Berdiri tanggal 5 Oktober 1945, dan jatuh bangun mengawal kedaulatan republik. TNI terbentuk dari rakyat, bukan tentara bayaran yang hanya mencari gaji.
Menurut Presiden Soekarno, banyak cerita mengharukan yang lucu dan menarik di awal pendirian TNI. Dan berikut ini beberapa cerita awal berdirinya TNI, dikutip dari merdeka.com yang merupakan rangkuman dari biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams.
1. Bawa granat langsung jadi perwira
Menjadi perwira TNI kini sangat sulit. Kalau bukan lulusan Akademi Militer maka harus sarjana yang kemudian mengikuti sekolah perwira. Seleksinya berat dan selektif.
Saat TKR terbentuk tanggal 5 Oktober 1945, sangat mudah menjadi perwira. Cukup bawa granat rampasan dan mendaftar. Tak perlu tes ini dan itu, langsung diberi pangkat letnan.
"Seorang sukarelawan yang mendaftarkan diri dengan membawa 10 anak buah, diberi pangkat kopral. Bila memimpin 20 orang, ia menjadi sersan. Tetapi bila membawa senapan dan granat selundupan, dia menjadi perwira," kata Soekarno.
2. Seragam belang-belang
Kini TNI punya seragam loreng yang bagus dan sama model maupun motifnya. Helm baja lengkap dengan sepatu boot berkualitas untuk bertempur.
Tahun 1945, seragam TNI tak sama. Jangankan membuat seragam yang sama, punya baju dan celana layak pakai saja sudah mewah.
"Sebagian tentara memakai uniform rampasan dari Belanda. Sebagian rampasan Australia dan ada juga yang melucuti tentara Jepang lengkap dengan sepatu boot dan pedang panjang," kata Soekarno.
Uniknya saat itu bisa saja komandan hanya memakai pakaian usang dan celana pendek lusuh, sementara prajuritnya berpakaian lebih bagus. Tergantung siapa yang merampas duluan. Banyak juga yang ukurannya tak sesuai, sehingga kebesaran.
Tapi tak ada yang peduli saat itu. Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia sejuta kali lebih penting daripada seragam mentereng.
3. Satu senjata untuk 5 orang
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk dari nol. Tanpa dukungan dana, maupun peralatan. Kondisi tentara Indonesia sangat memprihatinkan.
"Yang dipakai sebagai ukuran vital, setiap lima orang prajurit memiliki satu pucuk senjata," kata Soekarno.
Saat itu TKR mengandalkan senjata rampasan dari Jepang atau sisa Belanda yang sudah tua. Jangan heran jika melihat barisan-barisan tentara hanya menyandang bambu runcing atau samurai.
"Kami mempunyai prajurit tanpa senjata, tanpa seragam dan tanpa gaji, tetapi tentara kami terus berkembang," kata Soekarno haru.
4. 1,5 Jam naik pangkat jadi mayor
Seperti kebiasaan di hampir semua negara, seorang presiden selalu mempunyai ajudan perwira militer. Seorang pejuang sipil lalu diangkat jadi ajudan Presiden Soekarno dan diberi pangkat letnan. Tentu saja pemuda itu sangat gembira karena sebelumnya tak punya pangkat apa-apa.
Tapi penasihat Soekarno kemudian protes. "Ini tidak boleh terjadi. Ratu Juliana dari Negara Belanda yang hanya memimpin 10 juta orang memiliki ajudan seorang kolonel. Bagaimana orang nanti orang memandang Soekarno, presiden yang memerintah lebih dari 70 orang, memiliki ajudan yang hanya berpangkat letnan," katanya.
Soekarno berpikir. "Betul juga."
Soekarno lalu memanggil letnan ajudannya itu. "Sudah berapa lama kau jadi letnan?"
Si ajudan menjawab "1,5 jam, Pak!" katanya sambil menghormat.
"Nah, karena kita merupakan negara baru yang tumbuh cepat. Mulai sore ini kau menjadi mayor," kata Soekarno.
5. Asal berani naik pesawat, jadi pilot
Jika kini TNI AU sudah memiliki F-16, Sukhoi, T-50i dan aneka pesawat lain, maka tahun 1945 kondisinya bagai bumi dan langit. Saat itu Angkatan Udara hanya punya beberapa pesawat bekas Jepang yang sebenarnya tak layak terbang.
Saat itu jumlah orang Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat hanya beberapa orang. Sebagian malah takut terbang. Maka tes masuk AU pun tentu tak sesulit sekarang.
"Satu-satunya pertanyaan yang diajukan adalah, "Apakah anda, berani naik pesawat terbang kita? Bila jawabannya "ya", maka dia diterima di Angkatan Udara," kenang Soekarno.
Nasib Angkatan laut juga tak kalah miris. Saat itu hanya ada beberapa kapal kayu. Tak seimbang dengan Indonesia yang lautnya sangat luas.
Sumber : Merdeka
Melihat dari sejarah, TNI awalnya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Berdiri tanggal 5 Oktober 1945, dan jatuh bangun mengawal kedaulatan republik. TNI terbentuk dari rakyat, bukan tentara bayaran yang hanya mencari gaji.
Menurut Presiden Soekarno, banyak cerita mengharukan yang lucu dan menarik di awal pendirian TNI. Dan berikut ini beberapa cerita awal berdirinya TNI, dikutip dari merdeka.com yang merupakan rangkuman dari biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams.
1. Bawa granat langsung jadi perwira
Menjadi perwira TNI kini sangat sulit. Kalau bukan lulusan Akademi Militer maka harus sarjana yang kemudian mengikuti sekolah perwira. Seleksinya berat dan selektif.
Saat TKR terbentuk tanggal 5 Oktober 1945, sangat mudah menjadi perwira. Cukup bawa granat rampasan dan mendaftar. Tak perlu tes ini dan itu, langsung diberi pangkat letnan.
"Seorang sukarelawan yang mendaftarkan diri dengan membawa 10 anak buah, diberi pangkat kopral. Bila memimpin 20 orang, ia menjadi sersan. Tetapi bila membawa senapan dan granat selundupan, dia menjadi perwira," kata Soekarno.
2. Seragam belang-belang
Kini TNI punya seragam loreng yang bagus dan sama model maupun motifnya. Helm baja lengkap dengan sepatu boot berkualitas untuk bertempur.
Tahun 1945, seragam TNI tak sama. Jangankan membuat seragam yang sama, punya baju dan celana layak pakai saja sudah mewah.
"Sebagian tentara memakai uniform rampasan dari Belanda. Sebagian rampasan Australia dan ada juga yang melucuti tentara Jepang lengkap dengan sepatu boot dan pedang panjang," kata Soekarno.
Uniknya saat itu bisa saja komandan hanya memakai pakaian usang dan celana pendek lusuh, sementara prajuritnya berpakaian lebih bagus. Tergantung siapa yang merampas duluan. Banyak juga yang ukurannya tak sesuai, sehingga kebesaran.
Tapi tak ada yang peduli saat itu. Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia sejuta kali lebih penting daripada seragam mentereng.
3. Satu senjata untuk 5 orang
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk dari nol. Tanpa dukungan dana, maupun peralatan. Kondisi tentara Indonesia sangat memprihatinkan.
"Yang dipakai sebagai ukuran vital, setiap lima orang prajurit memiliki satu pucuk senjata," kata Soekarno.
Saat itu TKR mengandalkan senjata rampasan dari Jepang atau sisa Belanda yang sudah tua. Jangan heran jika melihat barisan-barisan tentara hanya menyandang bambu runcing atau samurai.
"Kami mempunyai prajurit tanpa senjata, tanpa seragam dan tanpa gaji, tetapi tentara kami terus berkembang," kata Soekarno haru.
4. 1,5 Jam naik pangkat jadi mayor
Seperti kebiasaan di hampir semua negara, seorang presiden selalu mempunyai ajudan perwira militer. Seorang pejuang sipil lalu diangkat jadi ajudan Presiden Soekarno dan diberi pangkat letnan. Tentu saja pemuda itu sangat gembira karena sebelumnya tak punya pangkat apa-apa.
Tapi penasihat Soekarno kemudian protes. "Ini tidak boleh terjadi. Ratu Juliana dari Negara Belanda yang hanya memimpin 10 juta orang memiliki ajudan seorang kolonel. Bagaimana orang nanti orang memandang Soekarno, presiden yang memerintah lebih dari 70 orang, memiliki ajudan yang hanya berpangkat letnan," katanya.
Soekarno berpikir. "Betul juga."
Soekarno lalu memanggil letnan ajudannya itu. "Sudah berapa lama kau jadi letnan?"
Si ajudan menjawab "1,5 jam, Pak!" katanya sambil menghormat.
"Nah, karena kita merupakan negara baru yang tumbuh cepat. Mulai sore ini kau menjadi mayor," kata Soekarno.
5. Asal berani naik pesawat, jadi pilot
Jika kini TNI AU sudah memiliki F-16, Sukhoi, T-50i dan aneka pesawat lain, maka tahun 1945 kondisinya bagai bumi dan langit. Saat itu Angkatan Udara hanya punya beberapa pesawat bekas Jepang yang sebenarnya tak layak terbang.
Saat itu jumlah orang Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat hanya beberapa orang. Sebagian malah takut terbang. Maka tes masuk AU pun tentu tak sesulit sekarang.
"Satu-satunya pertanyaan yang diajukan adalah, "Apakah anda, berani naik pesawat terbang kita? Bila jawabannya "ya", maka dia diterima di Angkatan Udara," kenang Soekarno.
Nasib Angkatan laut juga tak kalah miris. Saat itu hanya ada beberapa kapal kayu. Tak seimbang dengan Indonesia yang lautnya sangat luas.
Sumber : Merdeka
Asal-Usul Nama Slamet Pada Gunung Slamet
Dari jajaran gunung api di Jawa, bahkan Indonesia, Gunung Slamet (3.428 m dpl) di Jawa Tengah memiliki nama yang bisa dibilang unik. Gunung ini memiliki nama yang tegas baik dalam bahasa maupun maknanya. Slamet! Yang berarti selamat. Sebuah kata yang sebenarnya �modern� untuk ukuran nama gunung.
Mari kita lihat nama gunung lain. Merapi misalnya. Dari bahasa apa kata itu? Asal katanya apa? Maknanya juga tersamar. Demikian juga nama lain. Merbabu, Sumbing, Sindoro, Lawu, Sinabung, Krakatau, Tambora, dan sebagainya. Nama-nama yang memang ada maknanya tetapi harus melalui penelaahan bahasa yang sedikit rumit. Sangat berbeda dengan Slamet. Sangat jelas artinya.
Nama Slamet memang cenderung baru. Seperti yang dikutip dari jejaktapak.com, kata ini aslinya merupakan serapan dari Arab yakni �Islam�. Artinya nama itu ada setelah Islam masuk ke Pulau Jawa. Dan masa itu memang belum lama karena baru pada sekitar abad ke-13. Syekh Maulana Malik Magribi merupakan tokoh dari Campa yang menjadi tokoh pertama membawa Islam ke Jawa. Berawal dari Gresik kemudian dia mengembara ke sejumlah daerah di Jawa.
Kembali dahulu ke nama Gunung Slamet. Karena namanya cenderung baru, maka Slamet hampir bisa dipastikan bukan nama asli gunung tersebut. Lalu apa nama aslinya? Ada dua versi yang masuk akal.
Seorang sejarawan Belanda, J. Noorduyn berteori nama asli gunung tersebut adalah Gunung Agung. Hal itu berdasarkan pada sebuah naskah bahasa Sunda tentang petualangan Bujangga Manik. Siapa Bujangga Manik? Dia adalah seorang pengembara yang berkeliling Pulau Jawa. Perjalanannya itu dikisahkan dalam sebuah puisi ditulis pada daun nipah. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Bujangga Manik ini disebut juga Prabu Jaya Pakuan. Seorang resi beragama Hindu dari Kerajaan Sunda. Dari naskahnya dapat diketahui dia sempat sampai dan tinggal di Bali. Nah di naskah ini disebut banyak daerah termasuk gunung. Salah satunya nama Gunung Agung. Menurut penelaahan Noordyun pemaparan lokasi gunung itu sama dengan Gunung Slamet sekarang ini. Jadi diduga nama awal Slamet adalah Gunung Agung.
Tetapi ada juga riwayat yang menyebut nama asli gunung itu adalah Gora. Sedang perubahan nama menjadi Slamet sama dengan yang diteorikan oleh Noodyun bahwa ada pengaruh Islam. Tetapi siapa? Karena sejak dahulu tidak sembarang orang bisa memberi nama sebuah wilayah. Setidaknya sekelas raja atau wali. Dan nama Syeh Maulana Malik Magribi disebut sebagai tokoh yang mencetuskan nama tersebut.
Dikisahkan, dalam pengembaraannya tokoh ini diserang penyakit kulit yang susah disembuhkan. Kemudian dia pergi ke Gunung Gora. Di sebuah lerengnya ini dia menemukan sumber air panas dengan tujuh pancuran. Diputuskan untuk sementara tinggal di daerah tersebut dan setiap hari dia mandi dengan air panas dari sumber di Gunung Gora hingga akhirnya sembuh. Sebenarnya masuk akal karena sumber air panas di gunung yang mengandung belerang memang bisa mengobati penyakit kulit.
Inilah asal muasal nama Slamet. Syeh Maulana memberi nama sumber air itu dengan nama Pancuran Tujuh yang sampai saat ini masih ada di daerah Baturaden. Dan Gunung Gora diubah namanya menjadi Gunung Slamet. Sementara kata Baturaden muncul ketika Syeh Maulana memberi nama seorang pengawalnya yang setia mengikuti dia termasuk tinggal di Pancuran Tujuh dengan nama Rasuladi yang berarti pengawal yang setia atau Batur Adi. Dari kata Batur Adi inilah kemudian berkembang menjadi Baturaden.
Dari sisi vulkanologi Slamet sendiri termasuk dalam gunung stratovolkano (kerucut) dengan tipe letusan stromboli. Mirip dengan Gunung Krakatao atau Galunggung yang bersifat eksplosif. Dengan karakter Tromboli letusannya akan melontarkan lava pijar dan materi lain ke udara hingga risiko terbesar tentu adalah munculnya awan panas, hujan material hingga bom vulkanik. Untungnya dalam sejarah yang ada letusan Slamet tidak membawa korban jiwa karena lontaran materialnya jatuh ke kawah sendiri.
Gunung ini meletus terakhir pada pada 1988 tepatnya pada 12-13 Juli ditandai dengan keluarnya abu dan lava dari kawah gunung api tipe A tersebut. Pada 2009 Gunung Slamet juga sempat meningkat aktivitasnya hingga statusnya sampai di Level III.
Mari kita lihat nama gunung lain. Merapi misalnya. Dari bahasa apa kata itu? Asal katanya apa? Maknanya juga tersamar. Demikian juga nama lain. Merbabu, Sumbing, Sindoro, Lawu, Sinabung, Krakatau, Tambora, dan sebagainya. Nama-nama yang memang ada maknanya tetapi harus melalui penelaahan bahasa yang sedikit rumit. Sangat berbeda dengan Slamet. Sangat jelas artinya.
Nama Slamet memang cenderung baru. Seperti yang dikutip dari jejaktapak.com, kata ini aslinya merupakan serapan dari Arab yakni �Islam�. Artinya nama itu ada setelah Islam masuk ke Pulau Jawa. Dan masa itu memang belum lama karena baru pada sekitar abad ke-13. Syekh Maulana Malik Magribi merupakan tokoh dari Campa yang menjadi tokoh pertama membawa Islam ke Jawa. Berawal dari Gresik kemudian dia mengembara ke sejumlah daerah di Jawa.
Kembali dahulu ke nama Gunung Slamet. Karena namanya cenderung baru, maka Slamet hampir bisa dipastikan bukan nama asli gunung tersebut. Lalu apa nama aslinya? Ada dua versi yang masuk akal.
Seorang sejarawan Belanda, J. Noorduyn berteori nama asli gunung tersebut adalah Gunung Agung. Hal itu berdasarkan pada sebuah naskah bahasa Sunda tentang petualangan Bujangga Manik. Siapa Bujangga Manik? Dia adalah seorang pengembara yang berkeliling Pulau Jawa. Perjalanannya itu dikisahkan dalam sebuah puisi ditulis pada daun nipah. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Bujangga Manik ini disebut juga Prabu Jaya Pakuan. Seorang resi beragama Hindu dari Kerajaan Sunda. Dari naskahnya dapat diketahui dia sempat sampai dan tinggal di Bali. Nah di naskah ini disebut banyak daerah termasuk gunung. Salah satunya nama Gunung Agung. Menurut penelaahan Noordyun pemaparan lokasi gunung itu sama dengan Gunung Slamet sekarang ini. Jadi diduga nama awal Slamet adalah Gunung Agung.
Tetapi ada juga riwayat yang menyebut nama asli gunung itu adalah Gora. Sedang perubahan nama menjadi Slamet sama dengan yang diteorikan oleh Noodyun bahwa ada pengaruh Islam. Tetapi siapa? Karena sejak dahulu tidak sembarang orang bisa memberi nama sebuah wilayah. Setidaknya sekelas raja atau wali. Dan nama Syeh Maulana Malik Magribi disebut sebagai tokoh yang mencetuskan nama tersebut.
Dikisahkan, dalam pengembaraannya tokoh ini diserang penyakit kulit yang susah disembuhkan. Kemudian dia pergi ke Gunung Gora. Di sebuah lerengnya ini dia menemukan sumber air panas dengan tujuh pancuran. Diputuskan untuk sementara tinggal di daerah tersebut dan setiap hari dia mandi dengan air panas dari sumber di Gunung Gora hingga akhirnya sembuh. Sebenarnya masuk akal karena sumber air panas di gunung yang mengandung belerang memang bisa mengobati penyakit kulit.
Inilah asal muasal nama Slamet. Syeh Maulana memberi nama sumber air itu dengan nama Pancuran Tujuh yang sampai saat ini masih ada di daerah Baturaden. Dan Gunung Gora diubah namanya menjadi Gunung Slamet. Sementara kata Baturaden muncul ketika Syeh Maulana memberi nama seorang pengawalnya yang setia mengikuti dia termasuk tinggal di Pancuran Tujuh dengan nama Rasuladi yang berarti pengawal yang setia atau Batur Adi. Dari kata Batur Adi inilah kemudian berkembang menjadi Baturaden.
Dari sisi vulkanologi Slamet sendiri termasuk dalam gunung stratovolkano (kerucut) dengan tipe letusan stromboli. Mirip dengan Gunung Krakatao atau Galunggung yang bersifat eksplosif. Dengan karakter Tromboli letusannya akan melontarkan lava pijar dan materi lain ke udara hingga risiko terbesar tentu adalah munculnya awan panas, hujan material hingga bom vulkanik. Untungnya dalam sejarah yang ada letusan Slamet tidak membawa korban jiwa karena lontaran materialnya jatuh ke kawah sendiri.
Gunung ini meletus terakhir pada pada 1988 tepatnya pada 12-13 Juli ditandai dengan keluarnya abu dan lava dari kawah gunung api tipe A tersebut. Pada 2009 Gunung Slamet juga sempat meningkat aktivitasnya hingga statusnya sampai di Level III.
Mengetahui Sejarah Pesawat Ulang-Alik
Pencetus ide dibuatnya pesawat ulang-alik Columbia adalah para ahli NASA pada tahun 1960-an. Pada tahun 1972 baru Presiden Richard Nixon menyetujui pengembangan pesawat tersebut dengan biasa US$ 5,2 miliar.
Dari sekian banyak desain, akhirnya NASA memilih desain yang terdiri dari 2 pesawat terbang, yaitu sebuah pesawat pendorong (booster) berukuran Boeing 747, dan pesawat pengorbit berukuran Boeing 707. Untuk peluncuran dalam orbit, keduanya akan digerakkan oleh roket berbahan bakar hidrogen cair.
Kemudian, dengan mesin jet biasa untuk penerbangan di atmosfer. Namun ternyata desain ini memerlukan biaya dua kalinya (US$ 10 milyar).
Akhirnya, NASA mengganti pesawat pendorong yang kembali ke bumi dengan roket berbahan bakar padat. Ukuran pengorbit diperkecil. Tangki bahan bakar ditaruh di luar pesawat yang dapat dilepas sehabis dipakai. Perubahan ini mengurangi biaya pengembangan hingga separuhnya.
Tetapi biaya operasi bertambah, karena tangki raksasa setinggi 4,74 meter harus selalu diganti, padah pesawat direncanakan untuk 100 kali penerbangan. Pendorong berbahan bakar padat memang dapat dipergunakan berulang kali, tetapi hanya dengan menurunkannya ke laut dengan parasut, kemudi diperbaiki lagi. Hal ini memerlukan dua buah kapal dan alat-alat untuk membuang air seharga US$ 1 juta. Konfigurasi akhir ini adalah membuat pesawat itu menjadi pesawat glider yang didorong oleh roket.
Kabinnya dapat menampung 7 orang (atau 9 orang dalam keadaan darurat). Ruang barang yang panjangnya 18,3 meter dan lebar 4,5 meter dapat untuk membawa satelit ke dalam orbit geostasioner setinggi 36.000 km. Wadah tersebut juga dapat membawa laboratorium angkasa Badan Ruang Angkasa Eropa (ESA) yaitu semacam bengkel ilmiah yang dapat ditinggali seberat 11.340 kg.
Dari sekian banyak desain, akhirnya NASA memilih desain yang terdiri dari 2 pesawat terbang, yaitu sebuah pesawat pendorong (booster) berukuran Boeing 747, dan pesawat pengorbit berukuran Boeing 707. Untuk peluncuran dalam orbit, keduanya akan digerakkan oleh roket berbahan bakar hidrogen cair.
Kemudian, dengan mesin jet biasa untuk penerbangan di atmosfer. Namun ternyata desain ini memerlukan biaya dua kalinya (US$ 10 milyar).
Akhirnya, NASA mengganti pesawat pendorong yang kembali ke bumi dengan roket berbahan bakar padat. Ukuran pengorbit diperkecil. Tangki bahan bakar ditaruh di luar pesawat yang dapat dilepas sehabis dipakai. Perubahan ini mengurangi biaya pengembangan hingga separuhnya.
Tetapi biaya operasi bertambah, karena tangki raksasa setinggi 4,74 meter harus selalu diganti, padah pesawat direncanakan untuk 100 kali penerbangan. Pendorong berbahan bakar padat memang dapat dipergunakan berulang kali, tetapi hanya dengan menurunkannya ke laut dengan parasut, kemudi diperbaiki lagi. Hal ini memerlukan dua buah kapal dan alat-alat untuk membuang air seharga US$ 1 juta. Konfigurasi akhir ini adalah membuat pesawat itu menjadi pesawat glider yang didorong oleh roket.
Kabinnya dapat menampung 7 orang (atau 9 orang dalam keadaan darurat). Ruang barang yang panjangnya 18,3 meter dan lebar 4,5 meter dapat untuk membawa satelit ke dalam orbit geostasioner setinggi 36.000 km. Wadah tersebut juga dapat membawa laboratorium angkasa Badan Ruang Angkasa Eropa (ESA) yaitu semacam bengkel ilmiah yang dapat ditinggali seberat 11.340 kg.
Perang Asia Pasifik Merupakan "Perang Minyak"
Tahun 1930-an Jepang, yang baru setengah abad lebih membuka diri dari politik isolasinya (Restorasi Meiji 1871) sedang membutuhkan sumber daya alam minyak bumi untuk mendukung modernisasi industri dan perdagangan, serta tentunya alutsista (arsenal)nya. Jepang meminta bantuan Jerman untuk membangun angkatan darat dan persenjataannya, dan Inggris untuk membangun angkatan lautnya. Semua itu untuk mendukung politik ekspansionis dalam rangka memenuhi kebutuhan akan sumber2 mineral yang dibutuhkan dalam industri modern yang mereka bangun.
Sampai akhir 1920an, kebutuhan mineral2 tersebut dipenuhi dari negara2 Amerika Serikat (AS), Inggris (& Australia), Perancis dan Belanda, yang menjarah dari negeri2 jajahan mereka di Asia Pasifik, kecuali AS yang memang punya sumber daya alam sendiri yang cukup signifikan di negerinya. AS memimpin rombongan pedagang internasional tersebut dgn memasok minyak bumi dan besi scrap (bahan baku baja).
Depresi ekonomi global pada 1930an (dikenal sebagai Great Depression) menghantam ekonomi Jepang cukup telak. Kebangkrutan ekonomi Jepang menimbulkan gerakan2 ultranasionalis sayap kanan di jajaran perwira tinggi militer Jepang untuk melakukan ekspansi ke negara2 tetangga untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku tersebut.
18 September 1931 - pasukan pro Jepang di Korea bernama "Kwangtung Army" menginvasi propinsi China Manchuria yang kaya deposit mineral. Diprotes oleh Liga Bangsa2 (LBB/League of Nations), Jepang memilih keluar dari LBB.
7 Juli 1937 - Pasukan Jepang menginvasi pesisir timur China, yang saat itu masih dipimpin partai Kuomintang dgn Presiden Generalissimo Chiang Kai-sek. Peristiwa ini mengawali perang Sino-Jepang ke-2.
Awal 1941 - Pasukan Jepang menginvasi Indochina Perancis (sekarang Vietnam, Khmer/Cambodia, Laos) dan akhirnya menganeksasi Thailand (dan memaksa pasukan kerajaan Thailand untuk bergabung dalam koalisi Axis/Poros). Pemerintah AS memprotes invasi ini dengan membekukan aset2 Jepang di AS dan mengembargo ekspor minyak AS ke Jepang. Belanda yang mengontrol sumur2 minyak di Hindia Belanda & Inggris yang mengokupasi sumber2 minyak di British North Borneo (Serawak & Sabah) mengikuti jejak AS sebagai bentuk solidaritas politik.
Sebagian faksi jenderal Jepang mengusulkan untuk menginvasi ke Uni Sovyet, yang saat itu sedang kewalahan menghadapi serbuan Nazi Jerman di front timur Eropa (Operasi Barbarossa). Namun sebagian jenderal yang lebih realistis melirik sumur2 minyak Belanda dan Inggris di Borneo, yang lemah pertahanannya. Koloni Hindia Belanda hanya dipertahankan oleh 70.000 personil KNIL dan 1500 pelaut KNIM dgn 1 eskader dipimpin Admiral de Ruyter. Koloni Inggris di Malaya dan Borneo Utara pun hanya dijaga oleh puluhan ribu pasukan saja. Hambatan utamanya adalah pangkalan utama Royal Navy di Singapore dan US Navy di Subic Bay, Filipina. Memang Inggris sedang kewalahan di front Eropa, namun diam2 Presiden Roosevelt sudah menggeser armada US Pacific Fleet ke Pearl Harbour, Hawai'i.
Di lain pihak, sumur2 minyak Belanda di Tarakan dan Mahakam menjanjikan sumber minyak bumi yang luar biasa besar. Royal Dutch Shell, perusahaan minyak negara Belanda, merupakan produsen minyak terbesar ke-3 di dunia dgn instalasi penyulingan utama di Balikpapan.
1941 - Jenderal Tomoyuki Yamashita mengusulkan ide briliant untuk menginvasi Malaya dan Singapore dari arah darat. Laksamana Yamamoto mencetuskanide untuk menghancurkan US Pacific Fleet di Pearl Harbour untuk memperlambat reaksi AS. Tuntutan AS agar Jepang mundur dari China juga ditampik mentah2. Akhirnya pemerintahan sipil Jepang jatuh dan rezim militer pimpinan Jenderal Hideki Tojo berkuasa. Tojo memaksakan gagasan untuk berperang demi harga diri bangsa dan kekurangan suplai minyak. Akhirnya dengan restu Kaisar Hirohito, Tojo memerintahkan Yamamoto untuk berlayar ke Pearl Harbour pada 1 Desember 1941 untuk membombardir US Pacific Fleet. Perang Dunia 2 pun secara resmi berkobar di Pasifik dengan dijatuhkannya bom di atas kapal perusak USS Arizona pada Minggu pagi 7 Desember 1941.
Dalam 6 bulan pertama perang berlangsung, balatentara Dai Nippon merajalela dengan cepat di seantero Asia Tenggara. Yamashita memimpin pasukan infantri menembus belantara Malaya dgn sepeda beroda kayu untuk mengecoh pertahanan Inggris di sana dan akhirnya merebut Singapore dari Johor pada Januari 1942. Pertempuran dilanjutkan ke sumur2 minyak Belanda di Sumatra (Pangkalanbrandan, Pangkalansusu, Dumai, Plaju dan Sungaigerong) yang ditaklukan dalam hitungan 4 bulan sejak serangan ke Pearl Harbour. Hingga akhirnya panglima KNIL Letjen Ter Poorten menyerah di Kalijati, Subang pada 9 Mei 1942. Seluruh Asia Tenggara takluk kepada Jepang.
Pemerintah Belanda yang lari ke Australia memerintahkan perusahaan minyak Shell untuk membumi hanguskan fasilitas penyulingan di Balikpapan dan sumur2 minyak di Tarakan untuk mencegah direbut utuh oleh Jepang. Ketika Jepang mendarat di Tarakan, yang mereka temui hanyalah sumur dan fasilitas pengeboran minyak yang sudah hangus terbakar. Penyulingan minyak di Balikpapan sempat diselamatkan karena pasukan KNIL yang ditugaskan membakarnya ketakutan begitu mendengar pasukan Jepang sudah mendarat di pantai Sepinggan (bandara sekarang) dan menyerang dari belakang (bukit), sementara posisi artileri pantai KNIL semua menghadap ke laut (seaward weaponry). Akhirnya Tarakan dan Balikpapan pun jatuh ke tangan Jepang pada Januari 1942. (forum.viva.co.id)
Sampai akhir 1920an, kebutuhan mineral2 tersebut dipenuhi dari negara2 Amerika Serikat (AS), Inggris (& Australia), Perancis dan Belanda, yang menjarah dari negeri2 jajahan mereka di Asia Pasifik, kecuali AS yang memang punya sumber daya alam sendiri yang cukup signifikan di negerinya. AS memimpin rombongan pedagang internasional tersebut dgn memasok minyak bumi dan besi scrap (bahan baku baja).
Depresi ekonomi global pada 1930an (dikenal sebagai Great Depression) menghantam ekonomi Jepang cukup telak. Kebangkrutan ekonomi Jepang menimbulkan gerakan2 ultranasionalis sayap kanan di jajaran perwira tinggi militer Jepang untuk melakukan ekspansi ke negara2 tetangga untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku tersebut.
18 September 1931 - pasukan pro Jepang di Korea bernama "Kwangtung Army" menginvasi propinsi China Manchuria yang kaya deposit mineral. Diprotes oleh Liga Bangsa2 (LBB/League of Nations), Jepang memilih keluar dari LBB.
7 Juli 1937 - Pasukan Jepang menginvasi pesisir timur China, yang saat itu masih dipimpin partai Kuomintang dgn Presiden Generalissimo Chiang Kai-sek. Peristiwa ini mengawali perang Sino-Jepang ke-2.
Awal 1941 - Pasukan Jepang menginvasi Indochina Perancis (sekarang Vietnam, Khmer/Cambodia, Laos) dan akhirnya menganeksasi Thailand (dan memaksa pasukan kerajaan Thailand untuk bergabung dalam koalisi Axis/Poros). Pemerintah AS memprotes invasi ini dengan membekukan aset2 Jepang di AS dan mengembargo ekspor minyak AS ke Jepang. Belanda yang mengontrol sumur2 minyak di Hindia Belanda & Inggris yang mengokupasi sumber2 minyak di British North Borneo (Serawak & Sabah) mengikuti jejak AS sebagai bentuk solidaritas politik.
Sebagian faksi jenderal Jepang mengusulkan untuk menginvasi ke Uni Sovyet, yang saat itu sedang kewalahan menghadapi serbuan Nazi Jerman di front timur Eropa (Operasi Barbarossa). Namun sebagian jenderal yang lebih realistis melirik sumur2 minyak Belanda dan Inggris di Borneo, yang lemah pertahanannya. Koloni Hindia Belanda hanya dipertahankan oleh 70.000 personil KNIL dan 1500 pelaut KNIM dgn 1 eskader dipimpin Admiral de Ruyter. Koloni Inggris di Malaya dan Borneo Utara pun hanya dijaga oleh puluhan ribu pasukan saja. Hambatan utamanya adalah pangkalan utama Royal Navy di Singapore dan US Navy di Subic Bay, Filipina. Memang Inggris sedang kewalahan di front Eropa, namun diam2 Presiden Roosevelt sudah menggeser armada US Pacific Fleet ke Pearl Harbour, Hawai'i.
Di lain pihak, sumur2 minyak Belanda di Tarakan dan Mahakam menjanjikan sumber minyak bumi yang luar biasa besar. Royal Dutch Shell, perusahaan minyak negara Belanda, merupakan produsen minyak terbesar ke-3 di dunia dgn instalasi penyulingan utama di Balikpapan.
1941 - Jenderal Tomoyuki Yamashita mengusulkan ide briliant untuk menginvasi Malaya dan Singapore dari arah darat. Laksamana Yamamoto mencetuskanide untuk menghancurkan US Pacific Fleet di Pearl Harbour untuk memperlambat reaksi AS. Tuntutan AS agar Jepang mundur dari China juga ditampik mentah2. Akhirnya pemerintahan sipil Jepang jatuh dan rezim militer pimpinan Jenderal Hideki Tojo berkuasa. Tojo memaksakan gagasan untuk berperang demi harga diri bangsa dan kekurangan suplai minyak. Akhirnya dengan restu Kaisar Hirohito, Tojo memerintahkan Yamamoto untuk berlayar ke Pearl Harbour pada 1 Desember 1941 untuk membombardir US Pacific Fleet. Perang Dunia 2 pun secara resmi berkobar di Pasifik dengan dijatuhkannya bom di atas kapal perusak USS Arizona pada Minggu pagi 7 Desember 1941.
Dalam 6 bulan pertama perang berlangsung, balatentara Dai Nippon merajalela dengan cepat di seantero Asia Tenggara. Yamashita memimpin pasukan infantri menembus belantara Malaya dgn sepeda beroda kayu untuk mengecoh pertahanan Inggris di sana dan akhirnya merebut Singapore dari Johor pada Januari 1942. Pertempuran dilanjutkan ke sumur2 minyak Belanda di Sumatra (Pangkalanbrandan, Pangkalansusu, Dumai, Plaju dan Sungaigerong) yang ditaklukan dalam hitungan 4 bulan sejak serangan ke Pearl Harbour. Hingga akhirnya panglima KNIL Letjen Ter Poorten menyerah di Kalijati, Subang pada 9 Mei 1942. Seluruh Asia Tenggara takluk kepada Jepang.
Pemerintah Belanda yang lari ke Australia memerintahkan perusahaan minyak Shell untuk membumi hanguskan fasilitas penyulingan di Balikpapan dan sumur2 minyak di Tarakan untuk mencegah direbut utuh oleh Jepang. Ketika Jepang mendarat di Tarakan, yang mereka temui hanyalah sumur dan fasilitas pengeboran minyak yang sudah hangus terbakar. Penyulingan minyak di Balikpapan sempat diselamatkan karena pasukan KNIL yang ditugaskan membakarnya ketakutan begitu mendengar pasukan Jepang sudah mendarat di pantai Sepinggan (bandara sekarang) dan menyerang dari belakang (bukit), sementara posisi artileri pantai KNIL semua menghadap ke laut (seaward weaponry). Akhirnya Tarakan dan Balikpapan pun jatuh ke tangan Jepang pada Januari 1942. (forum.viva.co.id)
Mengapa Bendera Indonesia Menggunakan Warna Merah-Putih?
Mengapa bangsa kita memilih warna merah-putih untuk bendera kebangsaan?. Ada yang mengatakan, warna merah putih berasal dari Gula Kelapa. Apakah memang demikian? Marilah kita simak sejarah panjang ini.
Pada tahun 1292 Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Kertanegara mencapai puncak kejayaan. Pada saat itu datanglah pemberontakan yang dilancarkan oleh raja Kediri bernama Jayakatwang. Namun mendapat perlawanan dari tentara Singosari yang dipimpin oleh Raden Wijaya.
Ternyata catatan sejarah tersebut ditemukan kembali pada tahun 1790 di Gunung Butak, Surabaya, menyebutkan; ... Demikianlah keadaan ketika tentara Sri Maharaja (Raden Wijaya) bergerak terus sampai ke Rabut Carat. Tidak lama, datanglah musuh dari arah barat. Saat itu juga Sri Maharaja bertempur dengan pemberontak dan musuh pun lari tunggang langgang. Tapi di sebelah timur panji-panji musuh berkibar, warnanya merah putih ....''
Lain lagi dengan sejarah pada masa Kerajaan Mataram, warna bendera kita dikenal sebagai Gula Kelapa. Hal ini diidentikkan dengan warna Gula=merah dan Kelapa=putih. Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai benda pusaka Kerajaan Surakarta, bendera Kyai Ageng Tarub yang dasarnya putih bertuliskan Arab-Jawa dan atasnya garis merah.
Sejarah selanjutnya di zaman Pangeran Diponegoro. Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Peperangan di tahun 1825-1830 melawan kolonial Belanda tersebut mempunyai catatan sejarah yang berharga. Tatkala Pangeran Diponegoro sedang melakukan perjalanan, ia berkata kepada Mangkubumi, ''Paman lihatlah rumah dan mesjid sedang dibakar, api merah menyala-nyala ke atas langit. Kini kita tak berumah lagi di dunia.''
Kemudian Pangeran Diponegoro melihat ke arah Tegalrejo, selanjutnya ke Selarong, tempat rakyat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu beliau mengucapkan kata-katanya yang terkenal kepada isterinya, Batnaningsing, ''Perang telah mulai! Kita akan pindah ke Selarong. Pergilah Adinda ke sana dan berikanlah segala intan permata serta emas perakmu kepada rakyat yang mengikuti kita.''
Dalam peperangan yang berakhir pada tahun 1830 itu Pangeran Diponegoro kalah. Bendera Merah Putih pun tidak berkibar lagi. Sejarah berikutnya tatkala para mahasiswa Indonesia yang ada di Negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1920. Panji yang mereka pilih adalah Merah Putih Kepala Kerbau. Sedangkan pada tahun 1927 Ir. Soekarno (Presiden pertama RI) mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Bendera Merah Putih dihiasi Kepala Banteng sebagai lambang organisasinya.
Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bernaung di bawah bendera Merah Putih dengan lambang garuda terbang. Dan garuda terbang menjadi lambang tersendiri, sehingga tinggal warna Merah Putih. Nah, tatkala menjelang negara kita merdeka, panitia kecil yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara ditugaskan untuk meneliti bendera dan lagu kebangsaan. Diputuskanlah kata sepakat arti ukuran serta lagu kebangsaan.
Yaitu Merah berarti berani, Putih berarti suci yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Sedangkan lagu kebangsaannya yaitu lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. Sebagai tindak lanjut penetapan bendera tersebut tertuang dalam UUD 1945 pasal 35, yang berbunyi, ''Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.'' Demikianlah sejarah panjang warna bendera kita Sang Merah Putih.
Sumber : Republika
Pada tahun 1292 Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Kertanegara mencapai puncak kejayaan. Pada saat itu datanglah pemberontakan yang dilancarkan oleh raja Kediri bernama Jayakatwang. Namun mendapat perlawanan dari tentara Singosari yang dipimpin oleh Raden Wijaya.
Ternyata catatan sejarah tersebut ditemukan kembali pada tahun 1790 di Gunung Butak, Surabaya, menyebutkan; ... Demikianlah keadaan ketika tentara Sri Maharaja (Raden Wijaya) bergerak terus sampai ke Rabut Carat. Tidak lama, datanglah musuh dari arah barat. Saat itu juga Sri Maharaja bertempur dengan pemberontak dan musuh pun lari tunggang langgang. Tapi di sebelah timur panji-panji musuh berkibar, warnanya merah putih ....''
Lain lagi dengan sejarah pada masa Kerajaan Mataram, warna bendera kita dikenal sebagai Gula Kelapa. Hal ini diidentikkan dengan warna Gula=merah dan Kelapa=putih. Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai benda pusaka Kerajaan Surakarta, bendera Kyai Ageng Tarub yang dasarnya putih bertuliskan Arab-Jawa dan atasnya garis merah.
Sejarah selanjutnya di zaman Pangeran Diponegoro. Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Peperangan di tahun 1825-1830 melawan kolonial Belanda tersebut mempunyai catatan sejarah yang berharga. Tatkala Pangeran Diponegoro sedang melakukan perjalanan, ia berkata kepada Mangkubumi, ''Paman lihatlah rumah dan mesjid sedang dibakar, api merah menyala-nyala ke atas langit. Kini kita tak berumah lagi di dunia.''
Kemudian Pangeran Diponegoro melihat ke arah Tegalrejo, selanjutnya ke Selarong, tempat rakyat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu beliau mengucapkan kata-katanya yang terkenal kepada isterinya, Batnaningsing, ''Perang telah mulai! Kita akan pindah ke Selarong. Pergilah Adinda ke sana dan berikanlah segala intan permata serta emas perakmu kepada rakyat yang mengikuti kita.''
Dalam peperangan yang berakhir pada tahun 1830 itu Pangeran Diponegoro kalah. Bendera Merah Putih pun tidak berkibar lagi. Sejarah berikutnya tatkala para mahasiswa Indonesia yang ada di Negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1920. Panji yang mereka pilih adalah Merah Putih Kepala Kerbau. Sedangkan pada tahun 1927 Ir. Soekarno (Presiden pertama RI) mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Bendera Merah Putih dihiasi Kepala Banteng sebagai lambang organisasinya.
Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bernaung di bawah bendera Merah Putih dengan lambang garuda terbang. Dan garuda terbang menjadi lambang tersendiri, sehingga tinggal warna Merah Putih. Nah, tatkala menjelang negara kita merdeka, panitia kecil yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara ditugaskan untuk meneliti bendera dan lagu kebangsaan. Diputuskanlah kata sepakat arti ukuran serta lagu kebangsaan.
Yaitu Merah berarti berani, Putih berarti suci yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Sedangkan lagu kebangsaannya yaitu lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. Sebagai tindak lanjut penetapan bendera tersebut tertuang dalam UUD 1945 pasal 35, yang berbunyi, ''Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.'' Demikianlah sejarah panjang warna bendera kita Sang Merah Putih.
Sumber : Republika
Sultan Hamid II, Sang Pembuat Lambang Garuda
Lalu Siapa Sultan Hamid II?
Sultan Hamid II adalah seorang menteri di Kabinet Indonesia Serikat (RIS). Dia berjasa menciptakan lambang Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara Indonesia. Sosoknya ganteng, tegap dan perlente. Di darahnya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda. Sultan Syarif Hamid Alqadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan keenam Pontianak.
Walau terlahir dari Kesultanan Islam, kehidupan Hamid Alqadri sepertinya lebih ke-Eropa-eropaan. Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi dia akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.
Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina Van Delden ini putri Kapten seorang tentara Belanda.
Masuknya Jepang, menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.
Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel, kemudian Jenderal Mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi. Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.
Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmina.
Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.
Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara.
Hamid menyerahkan rancangannya. Wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah desain awal Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih 'gundul' dan tidak berjambul.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita.
Banyak yang menduga Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.
Karir politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang. Dia bersekutu dengan Westerling untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.
Percobaan pembunuhan itu gagal. Sultan Hamengkubuwono IX menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.
Nama Hamid pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah dilupakan.
Mengapa Sultan Hamid II akhirnya memberontak?
Banyak yang menilai Sultan Hamid II tidak puas dengan jabatan yang diberikan Soekarno. Dia hanya menteri tanpa portofolio yang bertugas menyiapkan acara kenegaraan dan lambang negara.
Hamid yang mantan opsir Belanda ini ingin menjadi menteri pertahanan RI. Alasannya, Hamid adalah perwira lulusan Akademi Militer Belanda. Dia kemudian diangkat menjadi jenderal mayor, pangkat tertinggi bagi perwira pribumi di Tentara Hindia Belanda atau KNIL.
Bandingkan dengan Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang yang 'cuma' dari Akademi Militer Belanda di Bandung. Atau Nasution yang 'cuma' lulusan Sekolah Perwira Cadangan Tentara Belanda. Sebagai lulusan Breda dan mantan tentara Hindia Belanda, tentu Hamid merasa lebih unggul.
Saat ditawari Westerling bergabung, Sultan Hamid II setuju. Westerling kemudian membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Anggotanya berasal dari Pasukan KNIL yang tak mau bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).
APRA pimpinan Westerling menyerang Bandung. Mereka membunuh dengan kejam para prajurit Siliwangi. Namun aksi ini tak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, gerakan APRA bisa ditumpas oleh TNI. Niat mereka untuk melakukan kudeta ke Jakarta gagal karena suplai senjata yang mereka tunggu tak kunjung datang. Perlawanan ini dipatahkan di Cianjur dan Cikampek oleh TNI.
Maka Westerling dan Hamid menyusun rencana untuk menyerang sidang Kabinet RI di Jl Pejambon, Jakarta Pusat, tanggal 24 Januari 1950. Target yang akan dibunuh adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo dan Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang.
Penyerangan direncanakan pukul 19.00 WIB. Westerling bersama satu truk pasukannya telah siap. Namun saat dia hendak menyerang, ternyata Sidang Kabinet sudah bubar sekitar pukul 18.35 WIB. Sultan HB IX, Ali Budiarjo dan TB Simatupang serta semua pejabat penting RI sudah meninggalkan Jalan Pejambon.
Rencana pembunuhan ini gagal. Westerling kemudian melarikan diri. Sementara Sultan Hamid II berhasil ditangkap di Hotel Des Indes beberapa waktu kemudian.
Rencana membunuh Sultan HB IX adalah akhir petualangan Westerling di Indonesia. Dia kemudian dilarikan dengan pesawat Angkatan Laut Belanda ke Singapura, lalu ke Eropa dan akhirnya sampai ke Belanda.
Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.
Sumber : Merdeka & Merdeka
Mitos Dan Lambang Burung Garuda
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, Garuda (Sanskerta: Garu?a dan Bahasa Pali Garula) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu dan Buddha. Ia merupakan wahana Dewa Wisnu, salah satu Trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari.
Bangsa Jepang juga mengenal Garuda, yang mereka sebut Karura. Di Thailand disebut sebagai Krut atau Pha Krut.
Indonesia dan Thailand menggunakan Garuda sebagai lambang negaranya. Ibukota mongolia, Ulan Bator juga menggunakan burung garuda sebagai lambang.
Dua Negara dengan Lambang relatif sama yaitu burung Garuda. Negara yang satu penduduknya memang banyak yg beragama Budha, sedangkan negara yg satu lagi penduduknya katanya menghargai keBUDHAyaan bangsa �.
![]() |
| Lambang ibukota mongolia, Ulan bator |
Garuda adalah seekor burung mitologis, setengah manusia setengah burung, wahana Wisnu. Kisah tentang burung Garuda ditemukan di Kitab Mahabharata, lebih tepatnya bagian pertama yaitu Adiparwa. Ceritanya Garuda adalah anak dari Begawan Kasyapa. Begawan Kasyapa memiliki dua istri, yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Setelah sekian lama, mereka belum juga memiliki anak. Lalu Kasyapa memberikan 1000 telur pada Kadru dan 2 telur pada Winata. Telur milik Kadru menetas menjadi 1000 ekor ular sakti, dan milik Winata belum. Karena Winata merasa malu, lalu ia memecah satu telur tersebut. Keluarlah seekor burung kecil yang belum sempurna bentuknya, cacat tak berkaki, diberi nama Anaruh. Telur yang tinggal 1 itu dijaga baik-baik oleh Winata.
Suatu hari, Winata kalah bertaruh dengan Kadru karena kecurangan kadru yang membuat Winata harus menjadi budak dan melayani Kadru beserta 1000 ekor ular. Dan telur Winata satunya pun akhirnya menetas menjadi Garuda. Besar, gagah, bersinar, dan sakti. Untuk menolong ibunya, Kadru menyuruh Garuda mengambil Amerta, air kehidupan milik dewa. Amerta dijaga para dewa dan dikelilingi api yang menyala. Garuda pun melawan para dewa dan menyembur dengan air laut untuk mematikan api tersebut. Pesan ibunya, �bila menelan orang lehermu terasa panas, itu tandanya Brahmana ikut termakan. Muntahkanlah, karena ia seperti ayahmu Begawan Kasyapa. Kamu harus menghormatinya�.
Berhasillah Sang Garuda merebut Amerta. Lalu dibawanya ke Kadru untuk menyelamatkan ibunya. 1000 ular sangat senang melihat amerta dan kemudian Winata dibebaskan, tetapi Garuda tak kehilangan akal. Dikibas-kibaskan sayapnya agar para ular menjadi kotor, dan mereka pergi membersihkan badan mereka di sungai. Saat para ular pergi, Garuda membawa Amerta kembali. Di perjalanan ia bertemu dengan Dewa Wisnu, meminta untuk Amerta diserahkan kembali kepada para dewa. Dan Sang Garuda pun menjadi tunggangan Dewa Wisnu.
Mengapa Garuda dipakai sebagai Lambang Negara Indonesia
Pada waktu itu Indonesia sedang mencari jati diri dibawah pimpinan Soekarno. Soekarno melihat bahwa kebudayaan indonesia yang asli adalah indonesia dimasa kerajaankerajaan hindu dan budha terutama pada puncaknya adalah Majapahit.
Maka waktu itu digalilah dengan gencar nilai-nilai sosial dan budaya dari kerajaan-kerajaan itu, untuk diterapkan kembali pada negara Indonesia yang baru. salah satunya adalah warna bendera Indonesia yang notabene adalah bendera kerajaan Majapahit.
Untuk lambang negara, Soekarno mengadakan sebuah sayembara. Dan akhirnya dia tertarik pada rancangan Sultan Hamid II yang berupa burung garuda (waktu itu belum seperti sekarang). Ketertarikan Soekarno ini karena rancangan Sultan Hamid II dia pikir sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, yaitu kehindu-an dan kebudha-an.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang �gundul� menjadi �berjambul� dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Bangsa Indonesia bersukur karena umat islam yang banyak di negara indonesia saat ini, bisa dikatakan tidak ada yang memprotes lambang negara yang diambil dari mitologi hindu dan budha ini. Juga tidak ada yang berniat merubah lambang negara menjadi kaligrafi seperti foto dibawah ini :
Lambang Kerajaan Samudera Pasai
Jika diperhatikan sekilas, lambang kerajaan Aceh itu memang mirip dengan Garuda Pancasila. Lambang itu dibentuk dari kaligrafi arab menyerupai burung garuda. Di bagian tengah badannya terlihat kotak dengan rangkaian tulisan berwarna merah dan biru. Lambang ini berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.
Nama-nama Garuda
Garuda memiliki banyak nama dan julukan. Berikut ini nama-namanya beserta artinya :
Nama-nama lain Garuda :
- Kasyapi
- Wainateya
- Supar?na
- Garutman
- Dak?aya
- Salmalin
- Tark?ya
- Winayaka
- Sitanana, �wajah putih hijau�.
- Rakta-pak?a, �sayap merah�.
- Sweta-rohita, �sang putih merah�.
- Suwar?akaya, �tubuh emas�.
- Gaganeswara, �raja langit�.
- Khageswara, �raja burung�.
- Nagantaka, �pembunuh naga�.
- Pannaganasana, �pembunuh naga�.
- Sarparati, �musuh ular-ular�.
- Taraswin, �yang cepat�.
- Rasayana, �yang bergerak cepat sebagai perak�.
- Kamacharin, �yang pergi sesukanya�.
- Kamayus, �yang hidup dengan senang�.
- Chirad, �makan banyak�.
- Wi??uratha, �kereta Wisnu�.
- Am?tahara?a, �pencuri amerta�.
- Sudhahara, �pencuri�
- Surendrajit, �penakluk Indra�.
- Bajrajit, �penakluk kilat�.
Sumber : Terselubung
Historia : Kapten Samadikun Pahlawan Pertempuran Laut di Cirebon
Cirebon merupakan salah satu wilayah penting maritim di Indonesia, kota ini memiliki sejarah kepahlawanan maritim sejak Kesultanan Cirebon berdiri, yang sangat terkenal yakni Fatahillah, menantu Sultan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, pahlawan yang mengalahkan Portugis dan pendiri Jayakarta (Jakarta).
Kisah kepahlawanan maritim lainnya adalah Kapten (Anumerta) Samadikun. Peristiwa pertempuran laut di Cirebon terjadi pada tanggal 5 januari 1947 antara Kapal Gajah Mada melawan kapal Belanda HR MS Kortenaer. Pertempuran ini merupakan ekses perjanjian Linggarjati yang dilakukan Antara pihak RI dengan Belanda dari tanggal 7 � 15 Januari 1946. Eskader ALRI pada perundingan Linggarjati mendapat tugas sebagai pengaman, pengawal dan pengangkut delegasi Belanda yang datang lewat laut.
Hasil perundingan itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan tubuh RI, dan berpotensi menimbulkan perpecahan diantara para pejuang. Ditinjau dari sudut pandang militer perjanjian itu sangat melemahkan perjuangan Bangsa Indonesia. Menghadapi situasi seperti itu Panglima Besar Jenderal Sudirman memberikan instruksi untuk tetap waspada dan bersatupadu menghadapi musuh.
Sebagai penjabaran dari instruksi Panglima Besar Sudirman, di Cirebon dibentuk Gabungan Komando Bersenjata dan segera mengadakan manuver latihan pada tanggal 4-6 Januari 1947. ALRI pada latihan itu mengerahkan lima buah Kapal dibawah pimpinan Letnan Satu Samadikun. Eskader yang terlibat antara lain KRI Gajah Mada di bawah Komandan Lettu Samadikun, Kapal Patroli P-8 dibawah komandan Lettu Sukamto, Kapal Patroli P-9 di bawah Komandan Lettu Supomo, Kapal Tunda Semar di bawah Komandan Lettu Toto PS dan Kapal Tunda Antareja.
Tanggal 4 Januari 1947, latihan pendaratan Marinir di Gebang, berjalan lancar di bawah Letda Abdul Kadir. Pada 5 Januari, pasukan eskader keluar jam 06.00 dari Pelabuhan Cirebon menuju Daerah latihan. Pada jarak enam mil terlihat Kapal Belanda HR MS Kortenaer didampingi Kapal Pemburu. Pada jarak empat mil Kapal Belanda mengirim isyarat untuk eskader ALRI agar berhenti, hal itu tidak dipatuhi, bahkan Lettu Samadikun memerintahkan kapal eskader untuk melakukan olah gerak dari formasi lini ke formasi Diamon.
Melihat manuver itu, kapal Belanda melakukan penembakan terhadap Kapal Patroli P-8 dan meleset. Lettu Samadikun mengambil Komando dan memerintahkan unsur eskader melakukan despersi menghindar, sementara KRI Gajah Mada mengambil posisi serang, hal itu dilakukan agar tidak semua eskader mengalami kehancuran.
Tembakan kedua Kapal Belanda langsung diarahkan ke KRI Gajah Mada tepat ke lambung kanan, hingga rusak dan bocor. Situasi menjadi tidak mungkin bertahan, Lettu Samadikun memerintahkan pasukan meninggalkan kapal, lalu mengambil senjata Kaliber 12,7 mm dan melakukan tembakan balasan. Kapal Belanda menembakkan meriamnya bertubi-tubi ke arah KRI Gajah Mada. Akhirnya peluru ke 12 meriam Belanda menenggelamkannya, bersama Komandan Lettu Samadikun.
Dalam pertempuran tersebut Indonesia kehilangan satu kapal, tiga pahlawan gugur serta 26 menjadi tawanan Belanda. Tanggal 7 Januari jenazah Lettu Samadikun ditemukan. Dengan upacara militer jenazah almarhum dimakamkan di TMP Kesenden dan dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten Laut Samadikun. Untuk mengenang jasanya namanya dijadikan nama jalan di Kota Cirebon.
Selain di jadikan nama jalan di kota Cirebon Kapten laut Samadikun juga di jadikan nama salah satu Kapal Perang Republik Indonesia dengan nama KRI Samadikun (341).
Seilas profil tentang KRI Samadikun
Di bangun di Avondale Marine, Westwego, LA, di luncurkan pada tanggal 29 July 1953 dan comisooning 5 May 1959. Dan dikirim ke Indonesia dengan nama KRI Samadikun pada 20 February 1973, status sekarang pensiun.
Spesifikasi Claud Jones Class (Kelas Samadikun) :
Kisah kepahlawanan maritim lainnya adalah Kapten (Anumerta) Samadikun. Peristiwa pertempuran laut di Cirebon terjadi pada tanggal 5 januari 1947 antara Kapal Gajah Mada melawan kapal Belanda HR MS Kortenaer. Pertempuran ini merupakan ekses perjanjian Linggarjati yang dilakukan Antara pihak RI dengan Belanda dari tanggal 7 � 15 Januari 1946. Eskader ALRI pada perundingan Linggarjati mendapat tugas sebagai pengaman, pengawal dan pengangkut delegasi Belanda yang datang lewat laut.
Hasil perundingan itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan tubuh RI, dan berpotensi menimbulkan perpecahan diantara para pejuang. Ditinjau dari sudut pandang militer perjanjian itu sangat melemahkan perjuangan Bangsa Indonesia. Menghadapi situasi seperti itu Panglima Besar Jenderal Sudirman memberikan instruksi untuk tetap waspada dan bersatupadu menghadapi musuh.
Sebagai penjabaran dari instruksi Panglima Besar Sudirman, di Cirebon dibentuk Gabungan Komando Bersenjata dan segera mengadakan manuver latihan pada tanggal 4-6 Januari 1947. ALRI pada latihan itu mengerahkan lima buah Kapal dibawah pimpinan Letnan Satu Samadikun. Eskader yang terlibat antara lain KRI Gajah Mada di bawah Komandan Lettu Samadikun, Kapal Patroli P-8 dibawah komandan Lettu Sukamto, Kapal Patroli P-9 di bawah Komandan Lettu Supomo, Kapal Tunda Semar di bawah Komandan Lettu Toto PS dan Kapal Tunda Antareja.
Tanggal 4 Januari 1947, latihan pendaratan Marinir di Gebang, berjalan lancar di bawah Letda Abdul Kadir. Pada 5 Januari, pasukan eskader keluar jam 06.00 dari Pelabuhan Cirebon menuju Daerah latihan. Pada jarak enam mil terlihat Kapal Belanda HR MS Kortenaer didampingi Kapal Pemburu. Pada jarak empat mil Kapal Belanda mengirim isyarat untuk eskader ALRI agar berhenti, hal itu tidak dipatuhi, bahkan Lettu Samadikun memerintahkan kapal eskader untuk melakukan olah gerak dari formasi lini ke formasi Diamon.
Melihat manuver itu, kapal Belanda melakukan penembakan terhadap Kapal Patroli P-8 dan meleset. Lettu Samadikun mengambil Komando dan memerintahkan unsur eskader melakukan despersi menghindar, sementara KRI Gajah Mada mengambil posisi serang, hal itu dilakukan agar tidak semua eskader mengalami kehancuran.
Tembakan kedua Kapal Belanda langsung diarahkan ke KRI Gajah Mada tepat ke lambung kanan, hingga rusak dan bocor. Situasi menjadi tidak mungkin bertahan, Lettu Samadikun memerintahkan pasukan meninggalkan kapal, lalu mengambil senjata Kaliber 12,7 mm dan melakukan tembakan balasan. Kapal Belanda menembakkan meriamnya bertubi-tubi ke arah KRI Gajah Mada. Akhirnya peluru ke 12 meriam Belanda menenggelamkannya, bersama Komandan Lettu Samadikun.
Dalam pertempuran tersebut Indonesia kehilangan satu kapal, tiga pahlawan gugur serta 26 menjadi tawanan Belanda. Tanggal 7 Januari jenazah Lettu Samadikun ditemukan. Dengan upacara militer jenazah almarhum dimakamkan di TMP Kesenden dan dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten Laut Samadikun. Untuk mengenang jasanya namanya dijadikan nama jalan di Kota Cirebon.
Selain di jadikan nama jalan di kota Cirebon Kapten laut Samadikun juga di jadikan nama salah satu Kapal Perang Republik Indonesia dengan nama KRI Samadikun (341).
Seilas profil tentang KRI Samadikun
![]() |
| KRI Samadikun, Ketika masih sebagai USS Claud Jones (DE-1033) |
Spesifikasi Claud Jones Class (Kelas Samadikun) :
- Tipe : Destroyer escort
- Produksi : Avondale shipyard, AS
- Berat (kosong) : 1314 ton
- Berat (penuh) : 1916 ton
- Tinggi : 11,3 meter
- Panjang : 95 meter
- Lebar : 5,5 meter
- Mesin : 4 Fairbanks-Morse 38ND8 diesels
- Jarak jelajah : 7.000 mil laut dengan kecepatan 12 knot
- Kecepatan max : 22 knot
- Radar : SPS-6E-2D Air Search
- Sonar : EDO 786, SQS-45(V), SQS-39(V), SQD-42(V)
- Awak : 171 (12 perwira)
Sumber : Garuda Militer
Mereka yang telah Berjasa Menyebarkan Berita Kemerdekaan RI
Nama mereka tidak setenar Soekarno-Hatta yang membacakan teks proklamasi. Namun jasa mereka yang menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sesungguhnya sangat besar. Tanpa mereka, proklamasi hanya akan diketahui oleh segelintir orang di Jakarta.
Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi di Jl Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta. Setelah itu para pemuda berusaha menyebarkan berita itu ke seluruh pelosok tanah air.
Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, memerintahkan berita tentang proklamasi tidak disebarluaskan. Kantor Berita Domei dan Harian Asia Raya dilarang memuat berita proklamasi.
Tapi hal ini tidak dituruti para pemuda. Seorang pemuda bernama Syahruddin yang bekerja sebagai wartawan Kantor Berita Domei, menyerahkan teks proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei. Waidan Palenewan yang menjadi kepala bagian radio memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita proklamasi tiga kali.
Baru dua kali F Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Tapi mereka nekat terus menyiarkan berita proklamasi.
Akibat jasa mereka, berita ini bisa diteruskan hingga ke luar negeri. Wartawati SK Trimurti
menjelaskan pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.
Jepang kemudian menyegel kantor berita tersebut tanggal 20 Agustus 1945. Tapi para pemuda tak kehilangan akal. Seorang pembaca berita stasiun radio Domei bernama Jusuf Ronodiputro membuat pemancar baru di markas aktivis Menteng 31. Jusuf dibantu para teknisi radio Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar.
Perjuangan juga dilakukan para pemuda lewat surat kabar, poster dan pamflet. BM Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang berjuang lewat berita di surat kabar. Sementara rekan-rekan mereka menempelkan poster di mana-mana. Mulai dari gedung, rumah penduduk hingga kereta api. Mereka juga mencoreti kereta api dengan tulisan-tulisan yang menggambarkan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu para anggota PPKI yang berasal dari daerah ikut menyebarkan berita ini di daerah masing-masing. Mereka adalah Teuku Mohammad Hassan dari Aceh, Sam Ratulangi dari Sulawesi, Ktut Pudja dari Sunda Kecil (Bali) dan AA Hamidan dari Kalimantan.
Tanpa jasa dan perjuangan gigih mereka, tak akan banyak orang tahu Indonesia telah merdeka.
Sumber : Merdeka
Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi di Jl Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta. Setelah itu para pemuda berusaha menyebarkan berita itu ke seluruh pelosok tanah air.
Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, memerintahkan berita tentang proklamasi tidak disebarluaskan. Kantor Berita Domei dan Harian Asia Raya dilarang memuat berita proklamasi.
Tapi hal ini tidak dituruti para pemuda. Seorang pemuda bernama Syahruddin yang bekerja sebagai wartawan Kantor Berita Domei, menyerahkan teks proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei. Waidan Palenewan yang menjadi kepala bagian radio memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita proklamasi tiga kali.
Baru dua kali F Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Tapi mereka nekat terus menyiarkan berita proklamasi.
Akibat jasa mereka, berita ini bisa diteruskan hingga ke luar negeri. Wartawati SK Trimurti
menjelaskan pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.
Jepang kemudian menyegel kantor berita tersebut tanggal 20 Agustus 1945. Tapi para pemuda tak kehilangan akal. Seorang pembaca berita stasiun radio Domei bernama Jusuf Ronodiputro membuat pemancar baru di markas aktivis Menteng 31. Jusuf dibantu para teknisi radio Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar.
Perjuangan juga dilakukan para pemuda lewat surat kabar, poster dan pamflet. BM Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang berjuang lewat berita di surat kabar. Sementara rekan-rekan mereka menempelkan poster di mana-mana. Mulai dari gedung, rumah penduduk hingga kereta api. Mereka juga mencoreti kereta api dengan tulisan-tulisan yang menggambarkan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu para anggota PPKI yang berasal dari daerah ikut menyebarkan berita ini di daerah masing-masing. Mereka adalah Teuku Mohammad Hassan dari Aceh, Sam Ratulangi dari Sulawesi, Ktut Pudja dari Sunda Kecil (Bali) dan AA Hamidan dari Kalimantan.
Tanpa jasa dan perjuangan gigih mereka, tak akan banyak orang tahu Indonesia telah merdeka.
Sumber : Merdeka
Pidato Bung Tomo yang Membakar Semangat "arek-arek Suroboyo"
Tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan yang diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. 10 November diperingati untuk mengenang pertempuran dramatis antara arek-arek Suroboyo melawan Tentara Inggris yang ingin menguasai Surabaya pada 10 November 1945.
Pada waktu itu Tentara Inggris mengultimatum warga Surabaya untuk menyerah kepada Inggris, dan memberikan bendera warna putih sebagai tanda telah menyerahkan diri. Namun ultimatum itu tidak diindahkan oleh arek-arek Suroboyo.
Tak dapat dipungkiri, pidato Bung Tomo pada 10 November 1945 menjadi penyemangat arek-arek Suroboyo untuk bangkit melawan, dan tidak gentar oleh serangan pasukan Inggris yang dilengkapi dengan senjata canggih. Dengan keyakinan yang tinggi, serta semboyan merdeka atau mati, arek-arek Suroboyo pantang menyerah dan dengan gagah berani melawan pasukan Inggris di Surabaya.
Seperti apa pidato Bung Tomo yang menggugah itu? Berikut pidato lengkap dari seorang Bung Tomo :
Sumber : Merdeka
Pada waktu itu Tentara Inggris mengultimatum warga Surabaya untuk menyerah kepada Inggris, dan memberikan bendera warna putih sebagai tanda telah menyerahkan diri. Namun ultimatum itu tidak diindahkan oleh arek-arek Suroboyo.
Tak dapat dipungkiri, pidato Bung Tomo pada 10 November 1945 menjadi penyemangat arek-arek Suroboyo untuk bangkit melawan, dan tidak gentar oleh serangan pasukan Inggris yang dilengkapi dengan senjata canggih. Dengan keyakinan yang tinggi, serta semboyan merdeka atau mati, arek-arek Suroboyo pantang menyerah dan dengan gagah berani melawan pasukan Inggris di Surabaya.
Seperti apa pidato Bung Tomo yang menggugah itu? Berikut pidato lengkap dari seorang Bung Tomo :
Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.
Saudara-saudara�.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu.
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga.
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara�.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara�.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!
Sumber : Merdeka
Alasan Mistis Soekarno pilih 17 Agustus 1945
17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi bangsa Indonesia. Saat itu, Presiden RI pertama, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku itu.
Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing.
Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik.
Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta 'diculik' oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.
'Penculikan' itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.
"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17," kata Bung Karno.
Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. "Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?" tanya Sukarni.
Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.
Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada, proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB.
Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.
Sumber : Merdeka
Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing.
Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik.
Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta 'diculik' oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.
'Penculikan' itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.
"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17," kata Bung Karno.
Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. "Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?" tanya Sukarni.
Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.
Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada, proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB.
Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.
Sumber : Merdeka
Bung Karno & Palestina
Sukarno terus menyokong perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina dari kolonialisme. Perjuangan Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel telah dilakukan sejak era Presiden Sukarno.
Baginya, tiap bangsa punya hak menentukan nasibnya sendiri tanpa melalui pengaturan dan campur tangan negara lain. Sedari awal, Indonesia tak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina.
Pemerintah Indonesia tak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tak pernah ditanggapi serius pemerintah Indonesia.
Bersponsor :
Jadilah agen iklan kami hasilkan jutaan rupiah selamanya, Kami sedang mencari agen periklanan ini disetiap desa atau kelurahan di seluruh Indonesia, yang mau bekerja secara partime atau paruh waktu baik melalui online maupun nyata, dan ini tidak terikat target khusus.
Mohammad Hatta hanya mengucapkan terimakasih, namun tak menawarkan timbal-balik dalam hal pengakuan diplomatik. Sukarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel.
Sewaktu Sukarno mulai menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut.
Keikutsertaan Israel bakal menyinggung perasaan bangsa Arab, yang kala itu masih berjuang memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang hendak dienyahkan Sukarno dan pemimpin-pemimpin dunia ketiga lainnya.
Dalam pidato pembukannya di KAA pada 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Sukarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.
Maka dari itu, tulis Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku, Bung Karno mengajak supaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika di dalam Konperensi ini membentuk satu front anti-kolonialisme dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika.
"Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga," ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.
Pasca KAA, solidaritas Asia-Afrika menguat dan semangat antikolonialisme makin membara di dada rakyat kedua benua. Sukarno makin keras mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Hal itu dia lakukan dengan berbagai cara, tak terkecuali melalui olahraga.
Maulwi Saelan, pengawal Sukarno, masih ingat betul pengalamannya tatkala sepakbola menjadi salahsatu alat perjuangan Indonesia di pentas politik internasional.
Menurutnya, pada 1958 Indonesia tinggal selangkah lagi masuk ke ajang Piala Dunia. Di penyisihan wilayah Asia Timur, Indonesia berhasil menundukkan Tiongkok.
Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat. Namun, Sukarno melarangnya. "Itu sama saja mengakui Israel," ujar Maulwi menirukan omongan Sukarno, kepada Historia.
"Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat," lanjut mantan penjaga gawang tim nasional yang pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956.
Perlawanan terhadap Israel kembali dilakukan oleh Sukarno ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Pemerintah Indonesia tak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan.
Meski alasan resmi yang dikeluarkan adalah, Indonesia tak mempunyai hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut, tapi alasan politik antiimperialisme Sukarno mendasari kebijakan tersebut.
Saat itu, negara-negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang ditopang Barat. Sedangkan China dikucilkan dunia internasional setelah Barat hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintahan China yang sah. Sukarno melihat hal ini sebagai bentuk penindasan negara-negara Old Established Forces (Oldefos) terhadap New Emerging Forces (Nefos).
Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tak ditentukan. Alih-alih patuh, Sukarno justru memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963. Sukarno terus melawan.
"Sebagai jawabannya Sukarno membentuk Ganefo yang diadakan tahun 1963, yang menjadi pertanda kebesaran bangsa ini dan pertanda ketidaktergantungan pada kekuatan-kekuatan dunia yang ada," tulis John D. Legge dalam Sukarno: Biografi Politik.
Semasa pemerintahan Sukarno pula Indonesia aktif mendukung perjuangan kemerdekaan di berbagai penjuru dunia dengan bantuan dana dan lain sebagainya.
Tak hanya di tingkat pemerintahan, rakyat Indonesia juga aktif mendukung kemerdekaan Palestina dan bangsa-bangsa lain seperti Aljazair dan Afrika Selatan.
Bersponsor :
Kami menerima penerbitan content placement pemasangan content placement untuk jangka pendek dengan minimal satu kali mengirim content placement, dan menerima kerjasama jangka panjang yang anda inginkan, dengan harga yang cukup terjangkau bahkan bisa dibilang sangat murah.
Melalui OISRAA (Organisasi Indonesia untuk Setikawanan Rakyat Asia-Afrika) yang berdiri pada 1960 dan tergabung dalam AAPSO (Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika), kerjasama perjuangan tersebut diintensifkan.
Hingga saat kekuasaannya sudah direbut Jenderal Soeharto pada 1966, Sukarno tetap pada pendiriannya dalam hal perjuangan rakyat Palestina melawan Israel.
Dalam pidatonya pada hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21, Sukarno menyatakan, "Kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!" (OLEH: MF MUKTHI) Historia
Baginya, tiap bangsa punya hak menentukan nasibnya sendiri tanpa melalui pengaturan dan campur tangan negara lain. Sedari awal, Indonesia tak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina.
Pemerintah Indonesia tak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tak pernah ditanggapi serius pemerintah Indonesia.
Bersponsor :
Jadilah agen iklan kami hasilkan jutaan rupiah selamanya, Kami sedang mencari agen periklanan ini disetiap desa atau kelurahan di seluruh Indonesia, yang mau bekerja secara partime atau paruh waktu baik melalui online maupun nyata, dan ini tidak terikat target khusus.
Mohammad Hatta hanya mengucapkan terimakasih, namun tak menawarkan timbal-balik dalam hal pengakuan diplomatik. Sukarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel.
Sewaktu Sukarno mulai menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut.
Keikutsertaan Israel bakal menyinggung perasaan bangsa Arab, yang kala itu masih berjuang memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang hendak dienyahkan Sukarno dan pemimpin-pemimpin dunia ketiga lainnya.
Dalam pidato pembukannya di KAA pada 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Sukarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.
Maka dari itu, tulis Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku, Bung Karno mengajak supaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika di dalam Konperensi ini membentuk satu front anti-kolonialisme dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika.
"Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga," ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.
Pasca KAA, solidaritas Asia-Afrika menguat dan semangat antikolonialisme makin membara di dada rakyat kedua benua. Sukarno makin keras mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Hal itu dia lakukan dengan berbagai cara, tak terkecuali melalui olahraga.
Maulwi Saelan, pengawal Sukarno, masih ingat betul pengalamannya tatkala sepakbola menjadi salahsatu alat perjuangan Indonesia di pentas politik internasional.
Menurutnya, pada 1958 Indonesia tinggal selangkah lagi masuk ke ajang Piala Dunia. Di penyisihan wilayah Asia Timur, Indonesia berhasil menundukkan Tiongkok.
Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat. Namun, Sukarno melarangnya. "Itu sama saja mengakui Israel," ujar Maulwi menirukan omongan Sukarno, kepada Historia.
"Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat," lanjut mantan penjaga gawang tim nasional yang pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956.
Perlawanan terhadap Israel kembali dilakukan oleh Sukarno ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Pemerintah Indonesia tak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan.
Meski alasan resmi yang dikeluarkan adalah, Indonesia tak mempunyai hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut, tapi alasan politik antiimperialisme Sukarno mendasari kebijakan tersebut.
Saat itu, negara-negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang ditopang Barat. Sedangkan China dikucilkan dunia internasional setelah Barat hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintahan China yang sah. Sukarno melihat hal ini sebagai bentuk penindasan negara-negara Old Established Forces (Oldefos) terhadap New Emerging Forces (Nefos).
Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tak ditentukan. Alih-alih patuh, Sukarno justru memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963. Sukarno terus melawan.
"Sebagai jawabannya Sukarno membentuk Ganefo yang diadakan tahun 1963, yang menjadi pertanda kebesaran bangsa ini dan pertanda ketidaktergantungan pada kekuatan-kekuatan dunia yang ada," tulis John D. Legge dalam Sukarno: Biografi Politik.
Semasa pemerintahan Sukarno pula Indonesia aktif mendukung perjuangan kemerdekaan di berbagai penjuru dunia dengan bantuan dana dan lain sebagainya.
Tak hanya di tingkat pemerintahan, rakyat Indonesia juga aktif mendukung kemerdekaan Palestina dan bangsa-bangsa lain seperti Aljazair dan Afrika Selatan.
Bersponsor :
Kami menerima penerbitan content placement pemasangan content placement untuk jangka pendek dengan minimal satu kali mengirim content placement, dan menerima kerjasama jangka panjang yang anda inginkan, dengan harga yang cukup terjangkau bahkan bisa dibilang sangat murah.
Melalui OISRAA (Organisasi Indonesia untuk Setikawanan Rakyat Asia-Afrika) yang berdiri pada 1960 dan tergabung dalam AAPSO (Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika), kerjasama perjuangan tersebut diintensifkan.
Hingga saat kekuasaannya sudah direbut Jenderal Soeharto pada 1966, Sukarno tetap pada pendiriannya dalam hal perjuangan rakyat Palestina melawan Israel.
Dalam pidatonya pada hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21, Sukarno menyatakan, "Kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!" (OLEH: MF MUKTHI) Historia
Hari-hari Terpanas Seputar Proklamasi Kemerdekaan RI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/HattaTetapi sebelum itu, hari-hari panas dilalui. Mulai dari pendaratan Bung Karno-Bung Hatta dari Saigon, hingga penculikan oleh para pemuda ke Rengasdengklok. Berikut ini hari-hari panas seputar 17 Agustus 1945.
1. 14 Agustus 1945
Soekarno dan Mohammad Hatta mendarat di Jakarta setelah sebelumnya menemui Panglima Tentara Jepang Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Atas nama Kaisar Jepang, Terauchi menjanjikan Jepang akan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia lewat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Ketika itu Jepang sudah terdesak dalam peperangan di Pasifik oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Jepang berharap masih dapat dukungan jika menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia.Setelah Soekarno tiba di Jakarta, para tokoh pemuda langsung mendatanginya. Mereka menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Soekarno berjanji kemerdekaan Indonesia akan segera diumumkan.
"Tidak lagi kukatakan bahwa kita akan merdeka bila jagung sudah matang. Tetapi kukatakan kita merdeka sekarang - sekarang ini juga- karena jagung sudah berbunga," janji Soekarno pada para pemuda seperti ditulis dalam biografi tulisan Cindy Adams.
2. 15 Agustus 1945
Berita Jepang menyerah kalah pada sekutu tersebar melalui radio bawah tanah. Golongan muda yang dimotori oleh Sukarni dan Wikana mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia malam itu juga. Soekarno tidak menerima desakan itu. Dia belum mempercayai Jepang benar-benar telah menyerah.
Soekarno mengaku tidak ingin ada pertumpahan darah dengan Jepang. Karena itu dia bersabar meminta para pemuda untuk menunggu PPKI yang akan mengumunkan kemerdekaan Indonesia. Sementara para pemuda menilai PPKI adalah badan bentukkan Jepang. Tak perlu lagi PPKI untuk kemerdekaan Indonesia, karena Jepang sudah kalah perang.
Suasana panas. Sukarni menyatakan kesiapan pemuda melawan Jepang jika proklamasi jadi dibacakan. Soekarno pun kesal diancam para pemuda itu.
"Jangan sekali-kali mengancamku. Ini leherku. Ayo potong. Ayo penggal, kalian bisa membunuhku. Tapi aku tidak pernah mau mengambil risiko untuk melakukan pertumpahan darah yang sia-sia hanya karena menuruti kalian," tegas Soekarno.
Para pemuda langsung diam. Soekarno akhirnya berjanji akan membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
3. 16 Agustus 1945
16 Agustus 1945, pukul 03.00 pagi, para pemuda mendatangi rumah Soekarno. Mereka akhirnya menculik Soekarno dan Hatta serta keluarganya karena dua pemimpin ini tetap tidak mau segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak ingin Soekarno terpengaruh oleh keinginan Jepang.
Para pemuda ini membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok di Karawang, Jawa Barat. Karena itu peristiwa ini dikenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok. Para pemuda berniat melakukan aksi penyerangan dan bumi hangus di Jakarta, setelah mereka mengalahkan Jepang, barulah Soekarno-Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia.
Tapi rencana aksi militan itu sama sekali tidak terlaksana. Jakarta tak terbakar tanggal 16 Agustus 1945. Masyarakat malah panik dengan menghilangnya Soekarno-Hatta.
Sidang PPKI yang rencananya bertujuan membahas persiapan kemerdekaan Indonesia pun tak digelar karena Soekarno-Hatta tidak hadir tanggal 16 Desember itu.
Akhirnya karena bingung, para pemuda mengembalikan Soekarno-Hatta ke Jakarta pada malam harinya.
4. 16 Agustus 1945 Tengah Malam
16 Agustus 1945, Soekarno-Hatta dan anggota PPKI mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda. Awalnya rapat akan digelar di Hotel Des Indes, tapi tidak jadi karena tidak diperbolehkan pihak hotel. Laksamana Maeda adalah tokoh militer Jepang yang menyatakan simpatinya untuk kemerdekaan Indonesia.
Lalu mereka menemui Jenderal Nishimura, kepala bagian pemerintahan umum bala tentara Jepang. Nishimura menegaskan Jepang tidak bisa mengizinkan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mereka terikat janji pada sekutu untuk tetap menjaga keamanan sebelum sekutu datang dan mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang.
Tapi ada kompromi, Nishimura akan pura-pura tidak tahu soal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sehingga tentara Jepang tidak akan melakukan intervensi soal kemerdekaan Indonesia. Nishimura mau melakukan ini karena permintaan dari Maeda dan anggota PPKI. Jepang pun tidak ingin ada pertumpahan darah besar jika melarang revolusi terbuka.
Puas dengan kompromi Nishimura, rombongan kembali ke rumah Maeda. Di sinilah teks proklamasi disusun. Setelah berdebat panjang, naskah diketik oleh Sayuti Melik.
Sementara itu Sukarni dan Sayuti Melik menghubungi markas para pemuda di Menteng 31, Prapatan 10 dan markas Barisan Pelopor di rumah Muwardi. Mereka meminta para pemuda tidak melakukan pemberontakan dan menyerang pihak Jepang. Proklamasi kemerdekaan akan diumumkan besok.
5. 17 Agustus 1945
Sejak pagi, rakyat sudah berbondong-bondong memadati sekitar rumah Soekarno di Jl Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta. Barisan Pelopor dan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) menjaga ketat rumah Soekarno. Soekarno sendiri tidak begitu sehat hari itu. Dia demam dan sangat lelah akibat tidak tidur berhari-hari.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Hatta tiba di rumah Soekarno. Prosesi bersejarah itu dimulai. Ada sambutan dari Wakil Walikota Jakarta Suwiryo dan pembacaan Pembukaan UUD 1945 oleh pimpinan Barisan Pelopor Muwardi. Tak ada protokol resmi hari itu dan sama sekali tak ada kemewahan.
"Aku berjalan ke pengeras suara hasil curian dari stasiun radio Jepang itu dan dengan singkat mengucapkan proklamasi," kata Soekarno.
Maka suara berat Soekarno pun terdengar. Jelas dan perlahan.
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dll, diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta."
Setelah itu Latief Hendraningrat mengibarkan bendera merah putih yang dijahit istri Soekarno, Fatmawati. Hadirin pun serempak menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.
Sumber : Merdeka
Kisah Presiden Soekarno mau dikerjai Mata-mata Seksi Rusia
Saat perang dingin di era 60an, Uni Soviet dan Blok Timur terkenal dengan mata-mata cantik berkode Burung Layang-Layang. Para wanita cantik ini menggoda diplomat asing hingga naik ke atas ranjang. Si korban tak sadar, wanita yang sangat memikat itu agen rahasia.
Para pria baru sadar saat beberapa hari kemudian video atau foto rekaman mesum mereka dikirim melalui surat khusus. Plus permintaan' untuk bekerja sama atau video mesum itu akan disebarluaskan.
Nah, Presiden Soekarno pun pernah jadi salah satu mata-mata cantik ini. Cerita ini ditulis Roger Boar dan Nigel Blundell dalam buku The World's Greatest Spies and Spymasters.
Zaman Orde Lama, hubungan Soekarno dan Rusia sangat dekat. Presiden pertama ini cukup sering berkunjung ke Rusia dan negara-negara Uni Soviet. Suatu hari para petinggi KGB mencoba memeras Soekarno.
"Presiden Indonesia Achmed Soekarno mempunyai reputasi dunia sebagai pengagum wanita, sehingga pantas saja KGB mencoba memfitnahnya dengan perangkap seks ketika ia berkunjung ke Moskow," tulis Boar dan Blundell.
Saat itu kecantikan wanita-wanita Rusia juga sudah tersohor ke seluruh dunia. Seorang wanita yang luar biasa cantik dan seksi dipilih untuk melayani Soekarno. Tentu saja kemesraan mereka direkam oleh KGB.
Para agen KKB pun mencoba menggertak Soekarno dengan memperlihatkan film rekaman mereka. Tapi jawaban Soekarno membuat para agen terperangah.
"Bisa berikan lagi beberapa copy? Rakyat saya pasti akan benar-benar bangga melihat saya!" jawab Soekarno santai.
Para agen KGB pun tak jadi memeras Soekarno. Mereka lupa Soekarno tak bisa digertak dengan cara apa pun.
Sumber : Merdeka
Para pria baru sadar saat beberapa hari kemudian video atau foto rekaman mesum mereka dikirim melalui surat khusus. Plus permintaan' untuk bekerja sama atau video mesum itu akan disebarluaskan.
Nah, Presiden Soekarno pun pernah jadi salah satu mata-mata cantik ini. Cerita ini ditulis Roger Boar dan Nigel Blundell dalam buku The World's Greatest Spies and Spymasters.
Zaman Orde Lama, hubungan Soekarno dan Rusia sangat dekat. Presiden pertama ini cukup sering berkunjung ke Rusia dan negara-negara Uni Soviet. Suatu hari para petinggi KGB mencoba memeras Soekarno.
"Presiden Indonesia Achmed Soekarno mempunyai reputasi dunia sebagai pengagum wanita, sehingga pantas saja KGB mencoba memfitnahnya dengan perangkap seks ketika ia berkunjung ke Moskow," tulis Boar dan Blundell.
Saat itu kecantikan wanita-wanita Rusia juga sudah tersohor ke seluruh dunia. Seorang wanita yang luar biasa cantik dan seksi dipilih untuk melayani Soekarno. Tentu saja kemesraan mereka direkam oleh KGB.
Para agen KKB pun mencoba menggertak Soekarno dengan memperlihatkan film rekaman mereka. Tapi jawaban Soekarno membuat para agen terperangah.
"Bisa berikan lagi beberapa copy? Rakyat saya pasti akan benar-benar bangga melihat saya!" jawab Soekarno santai.
Para agen KGB pun tak jadi memeras Soekarno. Mereka lupa Soekarno tak bisa digertak dengan cara apa pun.
Sumber : Merdeka
Langganan:
Postingan (Atom)

























